Januari in Berry

Hari kemarin, Kamis 26 Januari 2012, Aku berangkat kerja dengan suasana ceria. Karena hampir semua baju yang kukenakan warnanya pink fanta, atau berry. Belakangan aku suka sekali dengan warna ini, beberapa barang yang kupakai dan kubeli kebanyakan adalah warna itu.

Pagi-pagi semangat sebelum kerja

Pagi-pagi semangat sebelum kerja

Beberapa barang yang kubeli berwarna pink fanta, diantaranya yaitu pada tahun 2009, pertama kali saya punya baju warna berry saat saya beli bersama dengan jilbabnya di toko Cinta Damai Point Square, Baju ini sering saya pakai saat jalan-jalan ke luar maupun saat pergi bekerja.

Depan monas

Depan Monumen Nasional

Selain pergi ke Monas, saya juga memakai baju warna Berry ini ke Arena Pekan Raya Jakarta Pada tahun 2010. Meskipun pada saat pergi kesana saya kehilangan blackberry pertama, tapi alhamdulilah itu menjadi pelajaran berharga buat saya, agar lebih berhati-hati dalam menjaga barang.

Pameran Komputer PRJ

Pameran Komputer PRJ

Pada tahun ini juga saya membeli tupperware warna berry bersamaan dengan tasnya untuk di bawa kalau mau pergi jalan-jalan atau ke kantor bawa makanan. Tapi, karena di kantor di masakan, perlengkapan makan ini sekarang jarang dipake, kadang-kadang di bawa mas Arif ke kantor kalau dia berangkat buru-buru dan gak sempat makan di rumah

Tupperware Berry

Tupperware Berry

Aku juga punya baju berwarna berry pemberian dari temanku Anick HT saat ia jalan-jalan ke India. Baju itu agak jarang aku pake, tapi belakangan setelah aku punya daleman jilbab warna serupa aku mulai memadu madankannya.

Mampir di Toko Online Saqina.com

Mampir di Toko Online Saqina.com

Setelah baju, jilbab dan perlengkapan lainnya, pada awal Januari 2012, aku beli sepatu malindi crocs warna berry yang sudah lama kuincar. Pengen beli udah lama cuma baru punya duit kemarin itu untuk jatah sepatu crocs. Sekarang tiap hari selalu kupakai kalau bekerja, lebih ringan dan nyaman.

Sepatu Crocs Malindi Berry

Sepatu Crocs Malindi Berry

Suamiku sepertinya memperhatikan warna kesukaanku, suatu hari dia memberiku jaket dari Amira sport berwarna berry milik klub Juventus, aku suka banget deh, meskipun aku kurang menyukai klubnya.

Juventus Depan

Juventus Depan

Juventus Belakang

Juventus Belakang

Pada saat pulang ke Sukabumi, aku juga minta bross peniti warna pink fanta, yang dibuat oleh salah satu PKBM di Bekasi. Najmi yang mengkoleksi bross ini dan aku minta dua warna, warna ini dan orange.

Bross Peniti

Bross Peniti

Oh ya, aku juga punya tempat kosmetik warna berry polkadot yang aku beli di toko Elizabeth, Blok M Plazza. Aku suka sekali dengan tas ini karena selain multi fungsional, harganya juga terjangkau. Sekarang kalau aku pergi jauh selalu kubawa tas ini

Tas Kosmetik

Tas Kosmetik

Posted in pribadi | Tinggalkan komentar

Resensi buku pertamaku di media online

Steve Jobs, Pemberontak Jenius yang Cinta Keluarga

Salah satu buku yang paling laris dan banyak di cari di tahun 2011 adalah biografi pendiri Apple, Steve Jobs yang ditulis dengan sangat baik dan mendalam oleh seorang manajer editor Majalah TIME dan pendiri CNN Walter Isaacson.

Buku yang terbit tidak lama setelah sang tokoh meninggal dunia akibat kanker pankreas merupakan hasil wawancara Isaacson dengan lebih dari empat puluh kali dengan Jobs selama dua tahun, serta wawancara dengan seratus anggota keluarga, sahabat, musuh, pesaing dan kolega Jobs.

Kesan pertama membaca buku ini adalah sampul depannya yang berwarna hitam dan putih bersih seperti kebanyakan produk Apple yang merupakan foto Jobs di saat sukses bersama Apple dan sampul belakangnya yang merupakan foto saat ia pertama kali mendirikan Apple di garasi rumahnya.Tutur bahasa Isaacson yang mudah dicerna didukung terjemahan yang baik dari Penerbit Bentang, membuat anda akan tidak terasa membacanya meskipun terdiri dari 41 bab.

Buku ini diawali dengan kisah masa kecil Jobs, kedua orang tua kandungnya yang merupakan pasangan aneh Abdul Fattah Aljandali dan Joanne Schieble yang melahirkan Jobs kemudian di adopsi oleh pasangan suami istri yang sudah sembilan tahun tidak punya anak Paul Jobs dan Clara Hagopian ,kemudian kisahnya saat Putus Kuliah di Universitas Reed, kepergiannya ke Atari dan India saat dia melakukan pencarian dirinya melalui spiritualitas Budha Zen, kisah tentang Apple I, Aplle II, serta kisah remajanya saat ia menghamili pacarnya Chrisann Brenan sehingga melahirkan seorang putri berna Lisa Nicole Brenan yang kemudian diakuinyasetelah melalui tes DNA.

Steve-jobs- Sampul Buku

Steve-jobs- Sampul Buku

Bagian yang panjang lebar di bahas dalam buku adalah beberapa inovasi Jobs selama ia mendirikan Apple, merakit Macintosh, keluar dari Apple, bergabung bersama Pixar, NexT dan saat ia kembali membangun Apple dengan penuh kesungguhan dan kerja keras yang luar biasa. Bagi anda yang sudah memiliki produk Apple maupun belum, anda bisa menemukan rahasia desain Apple yang di bahas dalam dua bab khusus, prinsip desain dan Think Different.

Beberapa terobosannya membuat i-MAC, Apple Store, i-Tune Store, MACS abad 21,i-Phone, i-Pad yang masing- masing dibahas dalam satu bab, sehingga anda akan melihat bagaimana produk itu dibuat dengan sangat komprehensif dibahas dalam buku ini dan sisi lain dari Jobs yang ciptaannya bisa mengubah dunia. Ada juga pandangan khusus Jobs tentang rekan bisinis sekaligus saingannya Bill Gates, Google, dll. Serta cerita menarik setiap dia persentasi maupun peluncuran produk Apple yang selalu dinanti masyarakat di penjuru dunia.

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah peranan istri Jobs Laurene Powell yang luar biasa sangat memahami Jobs sang CEO jenius yang pemberontak dan pekerja keras ini meniti karirnya dan menemaninya saat ia berada di puncak kejayaan bersama Apple maupun saat ia vonis kanker pankreas yang harus membuatnya cuti berkali-kali hingga akhirnya menyerahkan kepercayaan pada Tim Cook. Powell memberi Jobs tiga orang buah hati, satu orang anak laki-laki bernama Reed, dan dua orang gadis kecil Erin dan Eve. Dengan tabiatnya yang praktis dan penuh pertimbangan Powell sebagai jangkar dalam kehidupan Jobs.

Buku ini sangat inspiratif bagi pembaca seperti halnya slogan produk ini, ?Siapa saja orang yang cukup gila untuk berpikir bahwa mereka bisa mengubah dunia berarti mereka adalah orang yang benar-benar mengubah dunia,?. Jadi bagi anda yang ingin mengubah dunia, buku ini sangat cocok untuk jadi referensi Anda.

Informasi Buku:

Judul : Steve Jobs
Penulis : Walter Isaacson
Penerbit : Penerbit Bentang Jogjakarta
Penerjemah : Word++ Translation Service dan Tim Bentang
Cetakan : I Oktober 2011, cet II November 2011
Tebal : xxii+742 hlm
Harga : 119.000

Eva Rohilah, Pengamat Buku
Twitter @evasyarwani​

Tulisan ini pernah dimuat di www.ghiboo.com, terimakasih ya Kamal, Redaktur ghiboo.com yang sudah memintaku menulis di ghiboo.com
link tulisan bisa di baca di
http://review.ghiboo.com/steve-jobs-pemberontak-jenius-yang-cinta-keluarga

Posted in Artikel, Resensi | Tinggalkan komentar

Hikmah Enam Tahun Pernikahan

15 Januari 2012 adalah ulang tahun pernikahan kami yang keenam, tentu anniversary kami ini sangat berkesan karena kami sangat bersyukur bisa melewati enam tahun dalam kondisi senang maupun susah. Banyak pengalaman yang telah kami lalui selama enam tahun perjalanan pernikahan kami, saling memahami sifat satu sama lain, menyelami kebersamaan dan saling pengertian juga kebahagian meniti hari- hari bersama.

Kalau mengingat sejarah, kami menikah di Sukabumi pada 15 Januari 2006, Pada saat itu dilaksanakan pesta yang sederhana dengan tamu yang merupakan teman dekat dan kerabat keluarga. Saya senang juga karena makanan saat resepsi cukup dan banyak tamu teman kantor dan teman mas arif datang dari Jakarta. Saat itu aku masih kerja di Pustaka Alvabet di Ciputat. Sebelum kami tinggal di rumah petak di Cirendeu, kami sempat ngekos dulu nunggu rumah petak jadi di bangun wah bulan-bulan pertama pernikahan kami melaluinya dengan banyak perjuangan.

pernikahan kami  15 Januari 2006

pernikahan kami 15 Januari 2006

Berikut aku kutip dari twitter Salman Aristo

Enam itu Angka kecil, Tanda muda. Bahwa Pemahamanku tentangmu masih belum penuh, maaf untuk itu (enam)

Pada tahun 2007, adalah setahun pertama, kami menikah. Pada Maret 2007, saya pindah kerja ke Reka Gagas Cipta di Kalibata, saat itu kami tinggal di komplek POLRI di lantai 2 rumah pensiunan polisi. Pada tahun ini juga kami mencari rumah dan menemukan komplek perumahan dengan harga terjangkau di Pamulang Elok, Depok. Tahun ini juga mas Arif mulai bekerja di Investor Daily. Suatu Keberkahan bagi kami bisa memiliki rumah setelah pada tahun ini. Kami merenovasinya pada Desember 2007 dan menempatinya bertepatan dengan ulang tahun mas Arif yang ke 32 Pada 2 Januri 2008. Sayang pada tahun ini aku menderita adenomiosis dan harus menjalani terapi agar mempunyai keturunan.

Enam itu arah, Menujuk angka-angka yang lebih lama. Sama denganku ingin menjaga dan mempertahankan kita (Enam)

Pada tahun 2008, adalah ujian terberatku di tahun kedua pernikahan. Aku sakit pada Juni 2008 tidak lama setelah aku berhenti dari pekerjaanku. Saat itulah aku merasakan cinta dan perhatian yang luar biasa dari suamiku. Aku hampir setahun sakit dan di rawat di Sukabumi, mas Arif mengunjungiku setiap minggunya, dan sebetulnya saat itulah aku merasakan kekuatan cinta yang luar biasa yang kami alami berdua. Masa-masa paling sulit seumur hidupku. Jika ingat kejadian ini aku suka menangis mengingat betapa besarnya perhatian suamiku sama aku dan aku semakin mencintainya dalam kondisi apapun. Tahun ini adalah tahun cobaan sekaligus tahun anugerah terbesar yang banyak mengubah hidupku

Enam itu genap. Memang. Sampai tahun berapa pun kita bersama, itu genap buatku (Enam)

Pada tahun ketiga, tahun 2009 aku kembali bangkit dari rasa sakitku dan tetap kontrol ke doktor setiap bulannya. Aku kembali bekerja di kantor lama dan meninggalkan rumah kami di Pamulang. Kami tinggal ngontrak di Kalibata agar dekat dengan kantor dan seminggu sekali pulang ke Pamulang. Saat itu juga aku mulai mencoba berbisnis meskipun kecil-kecilan. Perlahan tapi pasti kami bangkit dari segala keterpurukan yang kami alami di tahun 2008. Namun, tidak berlangsung lama, akhir 2009 saya berhenti bekerja dan total mengurus usaha.

Kami berdua di Kubah Emas pada 2009

Kami berdua di Kubah Emas pada 2009

Enam itu sesudah lima. Itu jelas sejelas keinginanku untuk tumbuh denganmu di tahun berikutnya. (Enam)

Pada tahun keempat, tahun 2010 saya total mengelola bisnis online di www.gerai-amira.com dan FB Gerai Amira. Saya keluar dari pekerjaan dan mencoba dunia usaha dengan menjadi guru ngaji untuk anak-anak di komplek Pamulang Elok. Suatu kebahagiaan tersendiri saat aku mulai usaha dengan modal yang aku ambil dari uang asuransi. Banyak customerku dari seluruh pelosok nusantara, dan saat itu media Facebook sangat efektif untuk jualan. Omzetku tiap bulannya naik dan alhamdulilah meskipun saya tidak bekerja saya merasa bahagia karena mendapat uang dari hasil bisnis dan malamnya bisa mengamalkan ilmu saya di kuliah dulu, menjadi guru agama, atau mengajar ngaji. Mas Arif juga mendukung kegiatanku dan dia senang aku mengajar ngaji, siangnya bisnis online. Suatu keberkahan hidup yang tiada tara.

Kami dan murid ngaji di Ragunan

Kami dan murid ngaji di Ragunan

Enam itu, bisa dibagi dua. Tiga. Tiga. Tapi buatku sulit ternyata. Sebab 6 tahun denganmu, itu utuh. (Enam)

Pada tahun kelima, tahun 2011 saya mulai bosan berbisnis dan akhirnya saya menyanggupi untuk menerima tawaran pekerjaan di kantor lama. Kalau dihitung-hitung sejak 2007, aku sudah tiga kali keluar masuk kantor. Tapi hubunganku baik dengan teman-teman kantor lama. Aku menerima tawaranku untuk bekerja lagi dengan catatan hanya tiga hari saja, karena aku masih mengurusi usahaku meskipun tidak seramai 2010. Pada tahun ini juga aku semakin menyadari jika dunia itu berputar. Mas Arif mulai mengambil alih usaha bisnis online, dia menggarap Amira Sport mulai Agustus 2011 usai lebaran. Alhamdulilah hasilnya sangat kami rasakan dan banyak perubahan yang kami alami dalam kondisi ekonomi kami. Pada tahun ini juga kami kembali berobat ke dokter maupun alternatif agar kami segera memiliki keturunan.

Enam itu, setengah lusin katanya. Saat ini buatku enam tahun denganmu melompati ukuran apapun. (Enam)

Pada tahun keenam, tahun 2012 kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Awal tahun kami periksa ke dokter kandungan dan alhamdulilah aku bersih dari kista maupun adenomiosis. Tahun ini kami ingin segera punya momongan, bagus juga katanya punya anak di tahun naga air. Saya seperti biasa bekerja di MCC tiga kali seminggu, kali ini menjadi lebih semangat dan berusaha lebih disiplin. Oh ya alhamdulilah saya sudah bisa naik motor tahun ini, Saya berusaha tidur lebih cepat agar bangun pagi dan bisa masak sebelum bekerja, serta berangkat ke kantor lebih awal, di hari jumat sampai senin saya banyak di rumah mengurus usaha. Sebagai tanda syukur kami buat nasi kuning atas syukuran anniversary ke enam kami, semoga berkah dan langgeng selamanya. Amiin.

Semoga di tahun keenam ini kami bisa segera mendapat momongan, selalu bersama dalam suka dan duka, diberi kelancaran dalam setiap rencana dan rezeki yang berkah, serta di tahun-tahun berikutnya bisa menuliskan lagi kisah anniversary kami.

Salam,

Eva Rohilah dan Arif Syarwani

Kami Berdua Suka Bola

Kami Berdua Suka Bola

Posted in Artikel Pernikahan, pribadi | Tinggalkan komentar

Semangat 2012

Alhamdulilah, tahun 2012 ini kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Beberapa target yang ingin di capai di tahun 2011 ada beberapa yang terpenuhi dan ada juga yang tidak. Aku bersyukur kepada Allah SWT atas segala karunia yang diberikannya kepada kami sekeluarga. Pada tanggal 2 Januari Mas Arif ulang tahun dan aku beri kado istimewa di hari ulangtahunnya, seneng deh lihat belahan jiwaku bahagia. Kemudian di akhir tahun 2011 yang mengejutkan adalah Amira Sport yang luar biasa perkembangannya sampai2 mas Arif kewalahan harus kerja siang malam.

Pada 15 Januari 2012 kami juga merayakan syukuran kecil-kecilan atas ulang tahun pernikahan kami yang keenam dan bertepatan dengan arisan bapak-bapak. Kami membuat nasi kuning dan malamnya makan pepes dan ayam kelapa. Alhamdulilah acara lancar dan kami bahagia sekali dengan apa yang sudah kami terima saat ini. Saya juga mau belajar motor karena tahun ini kita beli motor scoopy warna putih coklat supaya saya bisa mandiri dan tidak tergantung pada suami. Saya juga pindak dokter ke dokter Mely di Sarana Husada, berdasarkan saran Atun dan Amak yang sudah berhasil hamil dan punya keturunan, semoga tahun ini kami berhasil yaa Amiien.

Oh ya, saya juga memperbaharui profil dan indeks di blog ini agar lebih update, ganti profil di Fb dan mulai mengurangi twitter. Satu hal yang saya menjadi pelajaran saya di usia yang ke-33 ini adalah mungkin beberapa waktu yang lalu saya pernah sombong, mungkin tidak saya sadari, mohon di maafkan ya teman dan saudaraku semua, sekarang ini saya sangat tidak suka dengan sifat sombong dan ingin menjadi pribadi yang lebih sederhana dan apa adanya.

Terimakasih buat suamiku dan keluargaku yang telah menemaniku sehingga aku bisa menyongsong 2012 dengan penuh semangat.

Salam,

Posted in Artikel | Tinggalkan komentar

Es Kopyor Bumbu Desa Memang Juara

Beberapa waktu yang lalu aku sama etik efrina, adik kelasku HMI sudah lama gak ketemu seringnya hanya lewat twitter atau fesbuk saja dan BBM. Setelah lama janjian gak jadi jadi akhirnya kita berdua untuk janjian makan di bumbu desa lebak bulus.

Bumbu Desa Lebak Bulus

Bumbu Desa Lebak Bulus

Menunya saat itu adalah pesmol gurame, sayur tahu toge, sambal dan es kopyor Bandung. Sebenarnya makanan disitu biasa-biasa aja, cuma es kopyornya memang juara banget.

Pesmol gurame

Pesmol gurame

Setelah ngobrol kesana kemari, dan cerita tentang beberapa hal, akhirnya aku pulang, alhamdulilah lega juga setelah gak ketemu 8 tahun.

Makan Bersama

Makan Bersama

Posted in Jalan-jalan | Tinggalkan komentar

Nasi Campur Kopi atau Ubi dengan Kelapa

Ni Medelu, S.Pd

Guru SD Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Nusa Tabukan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan para orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka.”

Ni Medelu

Ni Medelu

Bagaimana rasanya bertugas mengajar di pulau kecil di tengah laut luas yang bergelombang besar? Tanyakan saja kepada Ni Medelu, S.Pd. Perempuan itu sudah 14 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru di Pulau Bukide, nun jauh di lepas pantai utara Provinsi Sulawesi Utara, di tubir Samudera Pasifik, di perbatasan utara wilayah Indonesia. Saat ini ia mengajar di Sekolah Dasar (SD) Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Kecamatan Nusa Tabukan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Jangankan ke ibukota provinsi, Manado, untuk mencapai ibukota kabupaten saja, Tahuna, ia harus naik perahu seharian melayari laut yang kadang bergelombang tinggi. Kecamatan Nusa Tabukan merupakan pemekaran dari Kecamatan Tabukan utara. Pemekaran ini terjadi oleh karena Wilayah Nusa Tabukan berada pada gugusan pulau kecil yang terpisah dari daratan Kecamatan Tabukan Utara di Pulau Sangihe.
Desa Tertinggal

Desa Enggohe, Bukide, didiami oleh 150-an kepala keluarga dengan total penduduk sekitar 484 jiwa. Pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan tradisional dan petani. Enggohe adalah sebuah kampung nelayan dan petani yang tertinggal dengan mayoritas masyarakatnya yang tidak berpendidikan. Di sana kaum laki-laki berjuang melawan ganasnya ombak lautan dan menepis dinginnya angin malam untuk mencari ikan. Para istri kemudian menjualnya ke Tahuna, dengan menumpang perahu.
Penduduk Enggohe umumnya belum menganggap penting pendidikan. Karena itu, mereka lebih suka kalau anak-anaknya tidak sekolah dan membantu orang tuanya mencari ikan atau bertani. Itulah sebabnya, banyak penduduk Enggohe yang tidak bersekolah. Tercatat baru ada seorang sarjana di desa ini, yang berhasil mencapai sekolah tinggi berkat dorongan para gurunya.

Sebelum mengajar di SD GMIST Sion Enggohe, Ni Medelu mendapat tugas mengajar di SD GMIST Nipa, Kampung Nusa, di Kecamatan Tabukan Utara sejak ia ditugaskan pertamakali jadi pegawai negeri pada tahun 1997. Namun, seiring adanya pemekaran, Pada tahun 2000, Ni Medelu berpindah tugas untuk mengajar SD GMIST Sion Enggohe.

Ni Medelu lahir di Mawira, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, 5 Agustus 1971. Ia adalah seorang yang kidal, dan karena tidak jamak, ia pernah dipersoalkan ketika masuk sekolah, karena menulis dengan tangan kiri. Nama Ni Medelu sendiri memiliki arti. Nama marga Medelu dalam bahasa Sangihe berarti guntur yang menggelegar. Tapi, tak seperti namanya yang terkesan garang, Ni Medelu ternyata memiliki kepribadian yang lembut, santun, dan ramah. Cocok untuk seorang pendidik.

Setamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Tahuna, Ni Medelu mendaftar di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Manado, karena ia bercita-cita menjadi guru. Ni Medelu kemudian meneruskan pendidikannya sampai meraih gelar sarjana pendidikan di Universitas Terbuka.
Sekolah Sederhana

Ketika pertama kali datang ke Nusa Tabukan, ia menemukan sekolahnya amat sederhana. Gurunya hanya satu merangkap kepala sekolah. Ni Medelu juga merasakan kesulitan berkomunikasi karena bahasa daerahnya berbeda, dan jarang yang menguasai bahasa Indonesia.
Ia masih ingat, betapa susahnya mengajar Bahasa Indonesia pada masa-masa awal ia bertugas. “Perlu penerjemah ke bahasa daerah setempat, karena saya sendiri tak paham bahasa daerah mereka,” tutur Ni Medelu. Berkat ketekunan dan kesabarannya, Ni Medelu kemudian mengajak masyarakat setempat untuk membiasakan diri berbahasa Indonesia. Lama-lama, bahasa Indonesia makin populer.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka,” kata Ni Medelu. Selain itu, Ni Medelu juga berhasil memotivasi para orang tua agar mau menyekolahkan anak-anaknya. Ni Medelu sendiri tidak terlalu mewajibkan anak-anak didiknya untuk mengenakan pakaian seragam lengkap dengan sepatunya, ke sekolah. Sebab, mencari pakaian seragam dan sepatu juga bukan perkara gampang di sana.

Musibah alam sempat menguji Ni Medelu. Pada 21 Januari 2001, sekolahnya terkena longsor. Akibat hujan yang terus menerus, terjadi longsor. Tanah longsor itu menjebolkan dinding sekolah sehingga rata dengan tanah. Semua sarana dan prasarana sekolah tertimbun dan hancur berantakan. Terpaksa, sekolah dipindah ke balai desa dan gedung gereja. “Beberapa bulan kemudian karena balai desa dipakai, kami terpaksa pindah ke SMPN I Nusa Tabukan,” tutur Ni Medelu.
Cukup lama, Ni Medelu dan anak didiknya meminjam gedung SMPN I Nusa Tabukan, karena baru pada 2006 ada bantuan mendirikan sekolah baru. Setelah bangunan baru selesai didirikan, barulah Ni Medelu memboyong anak-anak didiknya ke gedung sekolah baru itu. Karena bangunan baru hanya terdiri dari tiga kelas, maka waktu belajar dibagi. Kelas 1 sampai kelas tiga masuk pagi, dan sisanya masuk sore.
Tambahan Guru Honorer

Bersamaan dengan kembalinya ia bersama murid-muridnya ke sekolah baru, saat itu pula ada tambahan tenaga guru honorer. Guru honorer itu adalah Pdt. A. Kahiking, S.Th. Meski dibayar murah, sang pendeta dengan tekun membantu Ni Medelu memberikan pendidikan kepada para siswa.
Seiring berlalunya waktu, SD GMIST Sion Enggohe pun terus berkembang. Saat ini, ada 63 orang murid di sekolah itu, dengan jumlah pengajar ada lima orang guru, terdiri dari empat orang PNS (Pegawai Negeri SIpil), dan satu tenaga honorer, serta seorang sukarelawan tenaga pengajar dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang dikelola oleh Anies Baswedan.

Sejalan dengan perkembangan zaman, pola pikir masyarakat tentang pendidikan pun turut berkembang. Ini ditunjukkan dengan perhatian dan kepedulian masyarakat Enggohe yang mulai mementingkan pendidikan anak-anaknya. Perhatian komite sekolah terhadap perkembangan sekolah pun makin besar, terlihat dari selalu hadirnya mereka dalam rapat-rapat sekolah.

Adapun masalah yang sering timbul adalah ketika guru harus mengurus administrasi sekolah, termasuk mengambil gaji, atau mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di ibukota kabupaten, Tahuna, atau di tempat lain luar wilayah pulau. “Artinya, kita harus meninggalkan tugas mengajar satu dua hari, karena perjalanannya saja bisa seharian, dan tidak setiap jam ada perahu untuk pulang ke pulau,” tutur Ni Medelu. “Kalau ketinggalan perahu, kita harus menyewa perahu khusus harganya Rp 150.000 hingga Rp 200.000, tapi kalau menunggu perahu yang biasa melayani angkutan harian, ya harus menunggu keesokan harinya, artinya harus bermalam,” papar Ni Medelu.
Makan Nasi Saja atau Ubi

Sebenarnya, pernah ada bantuan dari pemerintah bagi masyarakat Desa Enggohe berupa satu unit perahu dengan mesinnya, untuk dipergunakan masyarakat bepergian ke pulau lain. Tapi sekarang sudah rusak akibat hantaman badai dan gelombang, dan tak ada dana untuk memperbaikinya. Akibatnya, sekarang masyarakat yang hendak menyebrang ke wilayah daratan utama, untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok terpaksa bergantung pada perahu dari pulau lain.
Jika sedang terjadi musim gelombang tinggi, dan angin kencang, tak ada perahu yang berani berlayar. Kapal yang biasa mengirim barang-barang kebutuhan pokok pun tak berani datang. Akibatnya, penduduk kadang kekurangan bahan makanan. “Kalau kami masih ada persediaan beras, kami biasa makan nasi saja disiram dengan kopi,” tutur Ni Medelu. “Kalau tidak, kami makan singkong yang dicampur dengan kelapa parut,” ia menambahkan, sambil tersenyum.

Selain itu, hambatan utama dalam pelaksanaan tugas pendidikan di Enggahe adalah ketiadaan listrik. Ni Medelu dan penduduk Enggohe terpaksa masih mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan. Setiap malam Ni Medelu ditemani oleh lampu botol dan pelita yang temaram. Jika ada angin kencang, mereka pun harus bergelap-gelapan karena tak ada lampu minyak yang mampu bertahan dari terpaan angin kencang. “Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan pada malam hari terbengkalai. Pekerjaan pun semakin menumpuk, apabila esoknya cuaca tidak berubah,” tutur Ni Medelu.

Sarana komunikasi pun jadi persoalan lain. Satu-satunya alat komunikasi yang menjadi andalan Ni Medelu adalah telepon seluler (ponsel). Tapi sinyalnya muncul tenggelam. Dan, jika batereynya habis, tentu tak bisa diisi ulang karena tak ada listrik. “Untuk mengisi baterenya, kalau datang hari pasar mesti ke pasar, atau menitipkan kepada yang berangkat. Cara yang lain adalah datang kepada yang punya generator,” kata Ni Medelu.
Ni Medelu berharap pemerintah mau memperhatikan kondisi masyarakatnya, dengan membantu membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Listrik dan sarana transportasi adalah yang dianggap paling penting, agar kehidupan ekonomi dan pendidikan masyarakatnya berkembang.

Posted in Artikel, Pendidikan | Tinggalkan komentar

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

Marcelina Wamburye
Guru Daerah Khusus Berdedikasi dari Papua Barat

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

“Saya sedih ketika harus pergi ke kota kabupaten untuk mengambil gaji, sehingga harus meninggalkan murid-murid beberapa hari. Akibatnya, kelas kosong, karena tak ada yang mengajar.”

Marcelina Wamburye

Marcelina Wamburye

Nun jauh di pedalaman Papua Barat, di tengah kesunyian belantara, ada seorang pendidik yang tekun menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Dia adalah Marcelina Wamburye, guru yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Paulus, di Desa Fruata, Distrik Fafurwar, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Wanita kelahiran Maprima, 23 Juni 1968, itu sudah 14 tahun mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak-anak Desa Fruata.

Teluk Bintuni mempunyai kekayaan alam yang melimpah mulai dari hasil hutan di permukaan tanah, hingga bahan tambang di bawahnya. Bahan tambang yang paling banyak ditemukan adalah gas alam cair (LNG), batu bara, dan mika. Sumber daya alam lainnya terdapat di perairan lautnya yang kaya ikan dan udang. Potensi alam yang besar itu ditunjang oleh letak geografisnya yang strategis, sehingga Kabupaten Teluk Bintuni sangat mungkin menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah kepala burung Pulau Papua.

Namun sangat disayangkan, sumber daya alam yang berlimpah itu tidak didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu. Selain itu, infrastruktur juga sangat minim. Permukiman-permukiman penduduk yang terpencar-pencar akhirnya menjadi desa-desa yang terisolir karena tak ada prasarana jalan yang memadai yang menjadi penghubung di antara mereka.

Begitulah kondisi Desa Fruata yang juga merupakan desa terpencil dan terisolir di papua Barat. Marcelina Wamburye, terpaksa harus hidup dengan segala keterasingannya dari peradaban yang ingar bingar di perkotaan. SD YPPK Santo Paulus tempat ia mengajar, yang terletak di Desa Fruata, berjarak puluhan kilometer jauhnya dari ibukota Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Bintuni.

Berjalan Kaki ke Pantai

Marcelina Womburye terpaksa harus berjalan kaki berhari-hari menuju Distrik Bintuni untuk mengambil gajinya, atau untuk mengirimkan laporan kepada Dinas Pendidikan Teluk Bintuni. Itu hanya untuk mencapai pantai saja sebelum perjalanan kemudian dilanjutkan dengan perahu. Satu-satunya angkutan yang beroperasi di sana adalah ojek motor, yang biasa mengantar hingga pantai. Ongkosnya sekali jalan Rp 500.000. Marcelina sendiri biasanya pergi dengan berjalan kaki dan terpaksa harus menginap di perjalanan.

Kesulitan transportasi ini tak hanya menghambat masalah pekerjaan, tapi juga akses untuk mendapatkan sumber makanan dan kebutuhan pokok lain. “Memang jarang sekali ada kesempatan ke kota, jadi kita makan seadanya saja, dengan memanfaatkan hasil kebun,” tutur Marcelina. Meskipun demikian, ibu tiga anak ini tidak pernah putus asa dalam menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, karena menurut dia, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.

“Cita- cita menjadi guru ditanamkan sang ibu sejak saya berusia 12 tahun,” kenang Marcelina. Marcelina bertutur, ketika ayahnya meninggal, ibunya kemudian menjadi tulang punggung. Sang ibu mencari uang dengan membuat minyak kelowan, minyak gosok yang biasa digunakan untuk pijat dan penghangat badan. Marcelina sendiri bertugas menjualnya.

Walaupun kondisi saat itu sulit, tetapi sang Ibu mengharuskan Marcelina dan adik untuk berangkat ke sekolah. Ibunya selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu menjaga semangat mereka dalam kondisi sesulit apapun. Kehidupan Marcelina saat itu sungguh sulit, tetapi ibunya selalu membuat dia semangat dengan mengajarkannya agar menemukan kebahagian di hari depan.

Sang Ibu jualah yang menanamkan pesan kepada Marcelina agar bersekolah dengan baik supaya bisa menjadi seorang guru dan menjadi pembimbing buat adik-adiknya kelak. Pesan dari sang Ibu sangat membekas dan menimbulkan tekad pada Marcelina untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru. “Kenangan dan nilai-nilai yang diajarkan ibu pada masa kecil itu sampai sekarang tidak akan bisa dilupakan,” kata Marcelina.

Sekolah Pendidikan Guru

Demi cita-cita menjadi guru itu, usai menamatkan Sekolah Menengah Pertama, Marcelina Womburye kemudian melanjutkan ke Sekolah PendidikanGuru (SPG), dan lulus pada tahun 1990. Selang tiga tahun setelah lulus, Marcelina berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi guru setelah diangkat menjadi PNS. Ia ditempatkan pertama kali di sebuah SD di daerah Tembuni selama tiga tahun. Setelah itu pada Agustus 1997 ia dipindahkan ke SD YPPK Santo Paulus, di Desa Fruata, sampai sekarang.

Marcelina berkisah bahwa pada saat pertama kali bertugas di Desa Fruata, minat warga untuk menyekolahkan putera-puterinya sangat rendah. Kala itu, di sana masih banyak penduduk yang melakukan adat kawin piara, yakni menikahkan anak-anak mereka sejak kecil, sehingga anak-anak itu tak sempat bersekolah. Marcelina berusaha mengubah adat itu, dan mengajak para orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya.

Perlahan-lahan Marcelina mengubah tradisi kuno itu, dan akhirnya mulai banyak anak di sana yang menjadi murid-muridnya. Hal yang membuatnya bangga, juga ketika anak-anak itu ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat SMA, sehingga banyak yang kini sudah menjadi pegawai negeri. “Bila sedang turun ke kota Kabupaten saya sering menjumpai anak didik saya yang sekarang sudah bekerja di berbagai instansi di Disttrik Bintuni,” ungkap Marcelina, gembira.

Saat ini Marcelina mengajar kelas satu dan kelas dua untuk semua mata pelajaran di SD YPPK St. Paulus. Dengan segala keterbatasan, ia bersama teman-teman lainnya sesama guru, bahu membahu mendidik para murid. “Saat ini ada enam kelas di sekolah kami, terdiri dari 150 murid,” ungkap Marcelina. “Untuk mengelola enam kelas, kami hanya memiliki empat guru, tentu saja kami kekurangan guru tapi beginilah kondisinya,” ia melanjutkan.

Kondisi bangunan sekolah pun sudah banyak yang mengalami kerusakan. “Saat ini Ada enam ruangan yang sebenarnya baru direhab pada 2005, tapi kontraktornya kurang bagus, sehinnga sudah rusak lagi,” kata Marcelina. Kekurangan guru dan kondisi gedung yang kurang memadai ini tentu berpengaruh terhadap kualitas pengajaran di sekolah. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya alat-alat penunjang seperti buku-buku pelajaran.

“Ada kalanya kita tidak punya buku pedoman. Dulu, kita biasa beli sendiri dengan uang kita sendiri, sebelum ada dana BOS,” kata Marcelina. “Memang, dari Dinas Pendidikan diberi, tetapi mereka mengatakan tidak ada dana untuk biaya transportasi untuk dikirim ke daerah kami,” Marcelina menambahkan.

Suka Duka Mengajar

Mengajar dengan segala keterbatasan ini tidak mengendorkan semangat Marcelina Womburye untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak didiknya. Banyak suka duka yang dialaminya selama mengajar dengan fasilitas seadanya itu. “Sukanya, saya bertemu dengan anak-anak sehingga saya bisa terhibur, apalagi jika mereka bisa naik kelas. Itu menjadi suatu kebanggaan bahwa saya berhasil,” papar Marcelina. “Dukanya, jika ada dari mereka yang tidak naik kelas. Saya jadi turut sedih karena berarti saya belum berhasil,” tambahnya.

Dan yang pasti, yang membuat Marcelina bangga dan bahagia menjadi guru adalah jika ada anak didiknya yang berhasil mengukir prestasi dan menghasilkan karya. Misalnya, ketika murid-muridnya meraih penghargaan dari bupati atas prestasinya membuat karya-karya kerajinan.

Dan kesedihan lainnya terjadi, ketika Marcelina dan rekan-rekan guru yang lain harus pergi, misalnya untuk mengambil gaji ke kota kabupaten, sehingga harus meninggalkan murid-muridnya beberapa hari. Akibatnya, kelasnya kosong, karena tak ada yang mengajar.

Semangat Marcelina Wamburye untuk melanjutkan pengabdiannya di pedalaman makin menggelora setelah kini ia meraih penghargaan sebagai guru berdedikasi, mewakili Papua Barat. Marcelina berharap, agar Kementerian Pendidikan Nasional bisa memperhatikan lebih banyak guru lagi yang sedang berjibaku membangun pendidikan di pedalaman. Sebab, ia yakin begitu banyak para pendidik yang rela mengabdi untuk Ibu Pertiwi dengan menjadi pengajar di sekolah-sekolah darurat nun jauh di kawasan terpencil di pedalaman pulau-pulau Indonesia.

Eva Rohilah

Posted in Pendidikan | Tinggalkan komentar

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Ahasferos Djaha

Guru Berdedikasi dari daerah khusus Nusa Tenggara Timur

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Ahasferos Djaha

Ahasferos Djaha

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan sering turun kabut, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak ke sekolah.”

Sorot mata Ahasferos Djaha terlihat tajam dan memandang jauh ke depan. Di usianya yang menjelang senja terlihat garis-garis kerut di dahinya. Namun lelaki kelahiran Alor 12 April 1962 ini, masih tampak gesit dan bersemangat. Wajahnya tempak berseri-seri menunjukkan rasa senangnya berkumpul bersama para guru berdedikasi lainnya dari berbagai daerah khusus dan terpencil, mengikuti serangkaian kegiatan yang dihelat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dalam menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan RI, pertengahan Agustus 2011.

Ahasferos Djaha mengaku senang karena selama ini ia hanya bisa melihat para tokoh bangsa ini lewat layar televisi saja, namun akhirnya ia bisa menjumpainya langsung di Jakarta. “Saya ternyata bisa berjumpa langsung dengan Bapak Menteri Pendidikan Nasional dan Ibu Negara Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Djaha. “Bagi saya ini benar-benar seperti mukjizat. Suatu kebanggaan bagi saya bisa terbang ke Jakarta dari kampung saya,” ia melanjutkan.

Mengajar di Puncak Gunung

Ahasferos Djaha adalah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Inpres Awaalah, Kecamatan Alor Barat, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Alor yang terletak di bagian timur laut NTT terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang tanahnya, rata-rata berupa pegunungan dan perbukitan kering yang tandus. Kabupaten ini berbatasan dengan pulau-pulau Maluku di sebelah timur, di sebelah barat dengan selat Lomblen Lembata, di sebelah utara dengan Laut Flores, dan di sebelah selatan dengan Selat Ombay dan Timor Leste.

Djaha yang memang lahir dan besar di Desa Awaalah, sudah 27 tahun mengajar di kampungnya itu. Ia pun tak pernah berniat beranjak dari desanya yang sebenarnya terletak nun jauh di atas gunung, terpencil dari keramaian kota. Ketika pertama kali bertugas sebagai pengajar, menurut Djaha, sekolahnya tak ubahnya seperti kondisi sekolah di pedalaman lainnya. SD Inpres Awaalah lebih mirip sekolah darurat tanpa fasilitas memadai. Jumlah tenaga pengajar, sarana dan prasarana belajar, buku-buku pelajaran, semuanya serba minim.

Kondisi kehidupan masyarakat pun amat sulit. Jangankan listrik, prasarana jalan pun masih berupa jalan tanah, yang tak bisa dilewati kendaraan, bahkan air bersih pun susah didapat. “Di desa kami tidak ada sumber air tanah. Kami hanya mengandalkan air hujan yang ditampung,” kata Djaha.
Di Desa Awaalah ada 12 Sekolah Dasar, tersebar dari pinggir laut sampai puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai masih bisa menggali tanah untuk mendapatkan air bersih meski rasanya sedikit asin. “Tapi, kami yang tinggal di gunung, tak bisa menggali tanah karena air tak ada,” tutur Djaha. Begitu sulitnya mendapatkan air, sampai-sampai masyarakat yang tinggal di sana jarang mandi. “Banyak murid datang ke sekolah tidak mandi, tapi hanya cuci muka saja,” kata Djaha sambil terkekeh.

Ahasferos Djaha bertutur, masyarakat desanya biasa mendapatkan air bersih dengan cara menampung air hujan menggunakan bilah-bilah bambu yang mengalirkannya ke bak penampung. Air di sana merupakan barang langka dan mahal. Jika harus membeli air, ongkosnya cukup besar karena harus membayar tukang ojek untuk mencari orang yang menjual air.

Air biasanya dijajakan oleh penjualnya menggunakan mobil tangki, melewati jalan-jalan yang bisa dilalui mobil. Karena itu, penduduk di atas bukit harus mencarinya ke lembah, karena mobil tangki tak bisa naik hingga ke tempat mereka. Djaha pun kerap menggunakan ojek mencari mobil tangki air sambil membawa jerigen. Setiap jerigen air berisi 10 liter, harganya Rp 10.000. Bukan main mahalnya.

Ketiadaan prasarana jalan juga menyebabkan komunikasi dan hubungan antar daerah sangat sulit. Djaha sendiri terpaksa harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk mengambil gajinya ke Kalabahi, Ibukota kabupaten Alor Barat. Namun, belakangan, pengambilan gaji biasa dilakukan oleh bendahara sekolah dengan ongkos hasil patungan para guru.

Tiap guru dipungut iuran Rp 10.000 untuk ongkos mengambil gaji, yang turun setiap tanggal 7 tiap bulannya. Jarak Desa Awaalah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, di kota Kalabahi, sekitar 60 km. Satu-satunya alat transpor adalah ojek sepeda motor. “Kalau tak ada ojek terpaksa jalan kaki, dan menginap di perjalanan, apalagi pada musim hujan,” tutur Djaha.

Sekolah Hampir Mati

Meskipun kondisi kehidupan di desanya yang juga jadi tempatnya mengabdi sangat memprihatinkan, Ahasferos Djaha tidak pernah menyerah. Ia tak berniat beranjak setapak pun meninggalkan desanya. Ia ingin terlibat langsung membangun pendidikan di kampungnya, mencerdaskan anak-anak desa yang kelak akan meneruskan membangun daerahnya. Masih segar dalam ingatan Djaha ketika pertama kali ia menjadi guru pada Agustus 1984. Kala itu sekolahnya seperti hidup tidak, mati tak hendak. Gurunya cuma satu, dan murid-muridnya sudah jarang masuk sekolah.

Djaha lalu berupaya menghidupkan sekolah itu, dan mengajak masyarakat bersama-sama memelihara dan menjaga sekolah. Secara bertahap, sekolah itu pun mulai berdenyut kembali. Gurunya, yang semua hanya ia sendiri bersama kepala sekolah, kini sudah bertambah jadi tujuh orang. Jumlah muridnya pun terus naik. sekarang, malah sudah sangat banyak yakni 222 orang, dan jumlah gurunya makin terasa sedikit, sehingga tidak seimbang.

Guru SD Inpres Awaalah hanya ada tujuh orang, plus beberapa guru tambahan yang direkrut dari anggota masyarakat yang bisa mengajar. “Kalau kekurangan guru, maka kami pakai juga warga yang tamatan SMA tapi yang punya kemampuan mengajar. Kami kontrak mereka dengan dibiayai dana BOS,” tutur Djaha.

SD Inpres Awaalah tidak seperti SD kebanyakan yang mewajibkan siswanya masuk tepat pukul 07.00. Murid di SD ini masuk sekolah pukul 08.00. “Kami memberi toleransi waktu, karena letak rumah para murid itu jauh dari sekolah, sehingga anak-anak butuh waktu untuk mencapainya dengan berjalan kaki,” tutur Djaha. Tidak hanya jarak dan medan perjalanan yang menghambat proses belajar tepat waktu. Menurut Djaha, kondisi cuaca juga mempengaruhi jam masuk sekolah.

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00,” kata Djaha. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan anak-anak kerap terlambat sampai di sekolah. Selain itu, sering turun kabut dan udara sangat dingin, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak.

Kelengkapan fasilitas sekolah pun amat minim. Karena kurangnya fasilitas pendukung dalam proses belajar mengajar, kata Djaha, membuat para guru sulit menyampaikan materi pelajaran. “Meskipun guru sudah membuat metode pengajaran banyak atau multimetode, tapi tidak didukung oleh sarana belajar yang semestinya seperti buku, dan alat-alat peraga,” kata Djaha. Toh, menurut Djaha, proses belajar selalu diarahkan bagaimana mambuat murid bisa belajar dengan bersemangat.

Aktif dalam Keagamaan

Meskipun tidak didukung fasilitas yang memadai di SD Inpres Awaalah, namun Ahasferos Djaha bersama guru yang lain tidak pantang menyerah. Apalagi sebagai putra asli kelahiran Awaalah Djaha memiliki harapan yang tinggi agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil, dan mengangkat kesejahteraan desanya. Sejak awal bertugas di sekolahnya, Djaha diberi kesempatan untuk menempati rumah yang dibangunnya bersama masyarakat setempat tidak jauh dari tempatnya mengajar.

Djaha sendiri memiliki hubungan baik dengan masyarakat setempat dan menjaga toleransi antar umat beragama. Bahkan sebagai pendidik yang dituakan, Djaha terlibat aktif dalam berbagai kegiatan gereja. “Masyarakat senang karena saya bukan urus sekolah saja, tapi juga mengurus gereja,” kata Djaha. “Tolerasi agama di tempat kami sangat bagus. Keluarga Islam banyak, sehingga kalau tiba hari Lebaran atau Idul Fitri, kami semua masyarakat Awaalah menyatu merayakannya,” tutur Djaha. Begitu juga ketika Natal tiba, kata Djaha, orang Islam juga ikut membantu acara perayaan di gereja.
Di SD Inpres Awaalah sendiri, murid yang beragama Islam ada sekitar 90 orang. Mereka dilayani oleh guru agama Islam juga dalam pelajaran agama.

Terlibatnya Djaha dalam kegiatan kerohanian berawal dari tidak adanya pendeta yang mau rutin naik ke atas gunung untuk melayani jemaah. Akhirnya, dialah yang memimpin acara-acara keagamaan, dengan memperbaiki gereja kecil. Bagi Djaha aktif di gereja adalah seni dalam hidup. “Saya harus bisa membimbing masyarakat kami, karena masyarakat berharap ada yang bisa mebimbing,” kata lulusan Program D-2 di sebuah perguruan tinggi swasta di Kalabahi dan kemudian melanjutkan ke Universitas Terbuka itu.

Menurut Ahasferos Djaha, masyarakat pedalaman seperti warga Dewa Awaalah menilai guru itu sebagai tetua yang biasa memberi petuah sehingga cukup dihormati. Karena itu, Djaha merasa mendapat tuntutan moral untuk tampil memimbing masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama. Namun, sebagai pendidik ia pun tak melupakan tugas pokoknya menyelanggarakan pendidikan untuk masa depan anak-anak desanya.

Eva Rohilah

Posted in Pendidikan | Tinggalkan komentar

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

Asoyadi
Guru Berdedikasi dari daerah khusus Kalimantan Barat

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya kerap menginap di rumah mereka dalam perjalanan. Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan.”
—–
Asoyadi terpana begitu menginjakkan kakinya di Ibukota Jakarta. Lelaki penyandang gelar sarjana pendidikan yang biasa dipanggil Asoy ini seolah seperti berada dalam mimpi. Ia berdecak kagum melihat gedung-gedung tinggi menjulang ke angkasa, melihat jalanan lebar mulus beraspal, dan kendaraan yang berjejal di hampir semua ruas jalanan Jakarta.

Asoyadi adalah guru sekolah dasar (SD) di daerah terpencil nun jauh di sana, di Kalimantan. Tepatnya, ia adalah pengajar di SD Negeri 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ia diundang ke Jakarta pertengahan Agustus lalu, sebagai Guru Berdedikasi Daerah Khusus tingkat nasional tahun 2011 mewakili Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Bersama guru-guru berprestasi lainnya dari seluruh Indonesia, Asoy diundang menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara. Selanjutnya, ia juga mengikuti serangkaian acara yang digelar Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas).

Asoyadi yang juga baru pertama kali naik pesawat –yang menerbangkannya ke Jakarta, tak henti-hentinya berkomentar kagum melihat pembangunan kota Jakarta yang seperti jauh tanah ke langit dengan pembangunan di daerahnya. “Saya takjub dengan Jakarta. Jalannya bertingkat-tingkat dan meliuk-liuk, gedungnya bagus-bagus,” ujarnya. “Di tempat saya mengajar di Kuala Behe, untuk mencapai jalan raya saja harus ditempuh berjam-jam jalan kaki melalui jalan kecil,” Asoyadi menambahkan.

Selama di Jakarta, Asoyadi tak menyembunyikan rasa senangnya bisa bertemu dengan sesama pengajar dari seluruh Indonesia. Mereka bersama-sama mengiktui kegiatan yang digelar oleh Subdit Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (PTK) Dikdas Ditjen Pendidikan Dasar, Kemdiknas.

Asoyadi lahir di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, pada 25 Maret 1975 itu. Asoy memang layak terpilih sebagai Guru Berdedikasi. Ia bukan hanya telah mengabdi selama 14 tahun tanpa noda, namun pengabdian itu pun terasa amat bermakna karena ia melaksanakan tugasnya sebagai pengajar di daerah terpencil di pedalaman, dengan berbagai kesulitannya.

Empat belas tahun lalu, Asoy lulus program Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tak lama setelah lulus, ia berhasil menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan ditempatkan di SDN 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak. Asoyadi sendiri merasa tak begitu asing dengan kondisi perdesaan di pedalaman. Karena itu, ia rela saja meski ditugaskan mengajar jauh di pedalaman. Putra pasangan petani, Simplisianus Ganti dan Yustina Junah yang merupakan orang Dayak asli itu, pun segera pamit kepada keluarganya untuk mulai menjalankan tugasnya. Kala itu, Asoy berusia 22 tahun, dan ia membawa istrinya, Nurdiana Fitri, turut serta ke tempatnya mengajar.

Terpencil dan Terisolir
Kabupaten Landak adalah salah satu daerah tingkat dua di Provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak pada tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Luas wilayah Kabupaten Landak mencapai 9.909,10 km² terbagi dalam 10 kecamatan dengan 174 desa. Lokasi antara satu desa dengan desa lainnya terpencar-pencar dengan jarak yang jauh, dan belum terhubung satu sama lain dengan sarana jalan yang memadai. Yang ada, sebagian besar merupakan jalan setapak atau jalan kecil yang belum berbatu, sehingga susah dilalui kendaraan pada musim hujan.

Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, yang berarti tanah orang Dayak. Mayoritas penduduk aslinya memang dari etnis Dayak dengan segala kekhasan budaya dan adat istiadatnya. Bahkan di sana masih ada peninggalan rumah Panjang/Betang yang merupakan warisan kebudayaan nenek moyang suku Dayak.

Asoyadi bertutur, dari desa kelahirannya ia terpaksa harus menempuh medan berat ke tempat tugasnya. Ia harus berjalan kaki berjam-jam lamanya dari ujung jalan raya terakhir, sebelum sampai di Desa Panit Semaro, tempat sekolahnya berada.

Selain itu, sesampainya di tempat tugas, Asoyadi juga dihadapkan pada kondisi sekolah yang nyaris sekarat. Kala itu, waktu pertama kali ia datang di sana tahun 1997, sekolah yang menjadi tempat bertugasnya sudah hampir tutup. Gurunya yang cuma seorang, jarang datang, dan akibatnya banyak muridnya yang juga enggan bersekolah atau pindah ke sekolah lain. Kepala sekolahnya tak berdaya. Ia saja sudah kewalahan mengajar sendirian.

“Begitu saya bertugas, saya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk membujuk lagi murid-murid agar mau kembali lagi bersekolah,” tutur Asoyadi. Asoy lalu menggelar rapat dengan para orang tua murid, agar membujuk anak-anaknya kembali sekolah. “Kemudian saya minta bantuan mereka agar memperbaiki rumah dinas guru, serta merawat bangunan sekolah yang sudah nyaris rusak karena tak terawat,” kenang Asoy lagi. Masyarakat pun ternyata mau bekerja bergotong royong merawat sekolah.

Animo warga untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Meskipun pada saat itu, SDN 25 Panit Semaro hanya menerima murid di kelas 4 saja. Warga di sana pun turut berpartisipasi memelihara bangunan sekolah. Mereka bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan rumput-rumput liar.

Susah Mengambil Gaji

Gaji pertama yang diterima Asoyadi ketika itu hanyalah Rp 102.800. Sungguh kecil jika melihat beratnya tantangan yang harus dihadapi Asoy. Namun sambutan masyarakat dan antusias anak-anak untuk bersekolah kembali membuat semangat Asoy makin membara untuk terus mengajar di sana. ”Saya katakan bahwa saya harus betah. Sebab saya dibutuhkan warga, dan warga sangat baik menerima saya,” kata Asoy.

Padahal, perjuangan dan kehidupan Asoyadi sangat berat. Ketika akan mengambil gaji bulanan, misalnya, ia harus pergi ke Ngabang, ibukota Kabupaten Landak. Perjalanan dari desa tempatnya mengajar menuju Ngabang harus ditempuh seharian. Ia antara lain harus menuju kota kecamatan Meranti dulu yang memakan waktu empat jam dengan berjalan kaki. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan satu jam menuju kota kecamatan Menyuke, baru setelah itu menuju Ngabang. Jika hujan deras, ia terpaksa menginap di rumah penduduk di perjalanan.

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya harus menginap di rumah mereka dalam perjalanan,” kata Asoy. “Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan,” tutur Asoy. Seringkali Asoy membuat jalan bersama masyarakat menembus semak-semak agar bisa dilewati. Pada tahun 2009, kata Asoy, baru ada ojek motor yang bisa dibayar untuk mengambil gaji ke Ngabang, dengan waktu tempuh 5 jam. Tapi kalau hujan, terpaksa motor pun ditinggal di rumah penduduk karena jalanan jeblok.

Perjuangan yang ditempuh murid-muridnya pun tak kalah berat. Setiap hari mereka harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan berat melewati jalan-jalan setapak dari rumahnya masing-masing. Kalau musim hujan, mereka harus basah kuyup dengan kaki belepotan lumpur. Banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu, kecuali pada hari Senin ketika mereka diwajibkan mengenakan sepatu karena harus mengikuti upacara bendera. Pada hari lainnya, jangankan sepatu, sandal pun mereka tak memakainya.

Berbeda dengan sekolah di kota, di SDN 25 Panit Semaro setiap harinya jam pelajaran dimulai pukul 07.30, kecuali hari Senin yang sama dengan di kota yakni pukul 07.00 karena ada upacara bendera. Toleransi setengah jam ini, menurut Asoy, diberikan karena jarak kampung tempat tinggal murid-murid cukup jauh dan mereka harus berjalan kaki menempuh medan berat ke sekolahnya. Selain itu, banyak anak-anak yang harus bekerja dulu membantu orang tuanya di rumah.
Kegiatan belajar mengajar di SDN 25 Panit Semaro dijalankan dengan fasilitas yang tentu saja serba terbatas. Meskipun dengan sarana dan prasarana minim, namun hasilnya lumayan memuaskan. Menurut Asoyadi, sejak tahun 1999 sampai sekarang SDN 25 Panit Semaro meluluskan 100% siswa-siswanya setiap ujian akhir nasional.

Asoyadi

Asoyadi

Susah Berkomunikasi

Karena berada di daerah terpencil, nun jauh di pedalaman, komunikasi merupakan kendala utama bagi pengembangan SDN 25 Panit Semaro. Informasi kebijakan dari Dinas pendidikan provinsi atau kabupaten, biasanya terlambat sampai. “Kami harus menempuh perjalanan lama menuju kabupaten, hanya untuk mendapatkan informasi kalau ada pengumuman penting,” tutur Asoy.

Asoy dan teman-teman guru lainnya memang punya ponsel alias telepon seluler, tapi nyaris tak berfungsi karena lemahnya sinyal. Kalau mau pakai ponsel, kata Asoy, terpaksa harus cari daerah yang sinyalnya bagus. “Kadang kalau mau mengecek ada SMS masuk saja, harus berjalan kaki selama 15 menit mencari tempat terbuka untuk mencari sinyal yang bagus,” tutur Asoy.

Selain persoalan tugas, Asoy juga menghadapi masalah berat lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketersediaan air bersih dan belum adanya aliran listrik merupakan persoalan yang sangat merepotkan. Masyarakat di sana biasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk mandi, mencuci maupun minum dan memasak. Tak ada fasilitas MCK (mandi cuci kakus) di sana. Satu-satunya fasilitas kakus atau WC hanyalah di rumah dinas guru, dan itu pun tak terurus karena susah memperoleh air bersihnya.

Kalau mengalami sakit lebih repot lagi. Di tempat Asoy bertugas sama sekali tak ada puskesmas, tenaga medis, apalagi dokter. Masyarakat biasa pergi ke dukun kalau sakit. Asoy pun terpaksa memanfaatkan jasa dukun, termasuk ketika menolong istrinya melahirkan dua puteranya. Toh, rasa kebersamaan masyarakat sangat tinggi, sehingga kalau ada yang sakit mereka ramai-ramai menolong. Asoy pun pernah ditandu warga ketika menderita sakit untuk dibawa ke dukun. Tak ayal lagi, Asoy merasa begitu betah dan merasa damai tinggal bersama masyarakat desa yang begitu baik, meski berada nun jauh di tempat terisolasi.

Pemerintah menyadari segala kesulitan yang dialami guru yang bertugas di daerah terpencil. Karena itu, pemerintah telah memberikan insentif berupa tunjangan khusus. Asoy pun menyatakan terimakasih. Ia kini menerima tunjangan khusus Rp 1,3 juta sebulan yang dirapel dan diberikan setahun sekali. Di luar itu, Asoy juga menerima tunjangan Rp 100.000 per bulan dari pemerintah provinsi dan Rp 150.000 per bulan dari pemerintah kabupaten.

Asoy menyatakan terimakasihnya atas tunjangan-tunjangan itu karena telah membuatnya bersemangat mengabdi di daerah terpencil. Asoy merasa begitu terharu ketika terpilih menjadi Guru Sekolah Dasar Berdedikasi untuk kategori Daerah Khusus dari Provinsi Kalbar.

Menurut Asoy, dedikasinya yang tinggi tak terlepas dari dorongan masyarakat Panit Semaro, yang telah memberinya semangat dan membuatnya bertahan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. ”Saya sangat berutang budi kepada masyarakat. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya tapi juga untuk mereka,” kata Asoy dengan mata berkaca-kaca. Ia berterimakasih kepada pemerintah, dan juga kepada masyarakat yang telah menerima dirinya dan membantu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, dengan baik.

Eva Rohilah

Posted in Pendidikan | Tinggalkan komentar

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1432 Hijriah

Kami sekeluarga mengucapkan selamat hari raya Iedul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah Minal Aidzin walfaidzin. Lebaran kali ini kami berlebaran di Blitar, setelah seminggu disana, baru kemudian lebaran di sukabumi dengan pulang naik kereta malabar ke Bandung.

Keluarga Besar Blitar

Keluarga Besar Blitar

Seperti biasa, keluarga besar kumpul di Blitar dan setelah hari kedua, kami ngelencer (keliling) ke saudara-saudara di sekitar Blitar. Kepada para Sahabat, kerabat dan tetangga, kami mengucapkan selamat hari raya iedul fitri, semoga ketemu lagi lebaran tahun depan.

Salam Arif dan Eva

Kami sekeluarga

Kami sekeluarga

Posted in Rumah | Tinggalkan komentar

Jalan-jalan ke Lombok

Pada pertengahan Juli 2011, saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke Pulau Lombok. Sebuah pulau indah yang berada di dekat pulau Bali. Saya berangkat dari Jakarta pukul 11.40 dan sampai di lombok pukul 13.30, karena di Lombok sudah masuk WITA. Saya tiba di Bandara Selaparang

tiba di Selaparang

tiba di Selaparang

Selain jalan-jalan, salah satu kegiatan saya yang lain adalah mengikuti ajang jambore PTK PAUDNI yang dipusatkan di LPMP dan Asrama haji dan penutupannya di Universitas Mataram.

di depan LPMP

di depan LPMP

Puncak acara yang berlangsung selama lima hari ini adalah pengumuman para juara pendidik dan tenaga kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini non formal informal di Universitas Mataram. Pada malam yang sangat menentukan ini banyak juara baru yang terpilih dan dihibur oleh banyak artis seperti Hughes, Udin Sedunia dan lain-lain.

malam penutupan

malam penutupan

Usai acara selesai saya jalan-jalan ke pantai Senggigi, pantai yang ada di sebelah barat Lombok. Pantainya sangat indah dan banyak turis yang berkunjung kesana. Perjalanan saya ke Senggigi dari Mataram adalah kurang lebih setengah jam. Makanan di Lombok enak-enak dan murah serta melimpah.

Pantai Senggigi

Pantai Senggigi

Dalam perjalanan ke Senggigi ini saya ditemani mbak Yuni, temen dari SP Kinasih yang sudah dengan senang hati meluangkan waktunya menyusuri pantai Senggigi. Pengalaman di Lombok ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan saya sangat berharap suatu hari bisa kesini lagi bareng mas Arif.

Posted in pribadi | Tinggalkan komentar

Mulai Hobi Naik Sepeda

selama bulan Juli kemarin saya belajar naik sepeda, sejak kecil memang gak bisa naik sepeda tapi setelah belajar dan di dorong mas Arif, akhirnya bisa juga naik sepeda hehehe, seneng banget rasanya, sekarang hampir tiap hari saya keliling komplek naik sepeda.

Naik Sepeda

Naik Sepeda

Selain buat olahraga, untuk ke warung terdekat maupun ke pasar,saya suka naik sepeda. Terkadang kalau pulang kerja pengen buru-buru nyampe rumah dan segera nggowes, buat yang suka naik sepeda selamat bergowes ria ya…

Posted in Rumah | Tinggalkan komentar

Mencari Oleh-oleh

Alhamdulilah, hari ini selesai semua kerjaan, lega banget rasanya dan udah gak sabar pengen nulis di blog setelah hampir sebulan lebih gak mampir di blog tercinta ini. Nah sebenarnya udah lama aku ingin berbagi tentang makanan favoritku ketika aku membeli oleh-oleh buat pulang kampung.

Pertama kali beli roti bolen mayasari ini waktu aku pertama kali mampir ke sebuah bakery di jalan deket daerah durentiga pasar minggu, kalau dari daerah Pancoran tempatnya setelah lampu merah duren tiga kiri jalan, disitu ada bakery/toko kue dan camilan Mayasari. Tahun 2008 kalau gak salah pertama kali aku mampir kesana dan membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah baik itu rumah di Pamulang, ataupun di Sukabumi, dan sampai sekarang udah empat tahun berselang aku masih setia memesan roti mayasari.

Roti Mayasari (bolen)

Roti Mayasari (bolen)

Ada aneka macam rasa roti pisang (bolen) mayasari ini. Diantaranya adalah rasa durian, coklat, keju, tape, dan rasa kacang. Hal ini menjadikan roti mayasari banyak pilihan untuk dipesan, menyesuaikan dengan rasa kesukaan anda.

Tapi yang paling aku suka dari aneka macam rasa di atas adalah roti rasa keju, khususnya keluarga dari sukabumi mereka senang sekali jika aku pulang bawa oleh2 roti mayasari rasa keju. Saking seringnya aku bawa kadang aku sampai bingung mau bawa apalagi kalau pulang kampung selain bawa roti mayasari.

Roti mayasari lima rasa

Roti mayasari lima rasa

Roti mayasari ini adalah asli roti buatan Bandung. Kebetulan waktu aku ada tugas ke Bandung aku pernah datang langsung ke pusat toko ini,wah seneng banget rasanya, tepatnya di deket rumah makan Ampera dekat pusat Ex-Trans Bandung.

Tapi kini di toko Mayasari tidak hanya menjual roti bolen aja, ada juga kerupuk setan. Di mana kerupuk ini puedess banget rasanya. Aku suka banget dengan kerupuk ini dan pernah beli beberapa kali, meski mas arif tidak begitu menyukainya.

Kerupuk Setan

Kerupuk Setan

Nah, ada satu lagi makanan yang belakangan menjadi favoritku saat makan, yang ini bukan oleh- oleh lho, ini makanan biasa yang menjadi teman makan kalau tidak ada sambal. Namanya abon cabe ninoy. Ada tiga macam rasa abon yaitu rasa cabe, rasa teri dan rasa bawang.

Dari ketiga macam rasa itu aku paling suka sama yang namanya abon cabe rasa teri bawang, wah enak banget deh sampe cepet abisnya. Tapi kalau yang rasa cabe doang kurang aku suka. Nah ketiga makanan itu adalah makan favoritku baik untuk oleh-oleh maupun untuk di makan sendiri. Semoga bagi pembaca yang bingung mencari oleh-oleh di Jakarta, makanan ini bisa menjadi alternatif pilihan.

Abon cabe Ninoy

Abon cabe Ninoy

Posted in pribadi | Tinggalkan komentar

How Lucky I am

Bulan Mei ini aku merayakan ulang tahun dan alhamdulilah dapat kado istimewa dari suamiku tercinta, yaitu aquarium yang diisi oleh ikan komet dua ekor. Aku seneng banget, karena mas Arif membikin sendiri meja akuarium dan mendesain akuarium itu sehingga hasilnya jadi bagus. Aku bersyukur banget dan merasa beruntung memiliki suami yang rajin dan perhatian.

Aquarium

Aquarium

Sehari sebelum ulang tahun, kami juga membeli seperangkat kursi jati yang akan dipasang di teras yang belum lama ini kita bangun. Sebelumnya, kita akan membeli kursi yang ada meja bulatnya di daerah serua,biasa disebut kursi betawi. Tapi setelah keliling ke Cinangka akhirnya nemu juga kursi yang cocok dengan apa yang kita inginkan. Kita menemukannya hampir magrib, dan hanya dalam waktu dua hari baru diantar.

teras-rumah

teras-rumah

Alhamdulilah aku bersyukur dengan rezeki yang kuperoleh saat ini semoga senantiasa berkah dan selalu mendapat Ridha dari Allah SWT. Terimakasih mas Arif atas kado ulang tahunnya. Semoga Allah senantiasa memberi kita kesabaran dan senantiasa bersyukur dalam menjalani hidup bersama. Amiien

Posted in Rumah | 2 Komentar

Menginap di Cipayung Puncak

Ini untuk kesekian kalinya aku diminta untuk datang ke acara kantor di Grand Jaya Raya Cipayung Puncak Bogor. Hotel atau resort ini memang asyik untuk dijadikan sebagai tempat pertemuan ataupun untuk menginap selama beberapa hari. Sayangnya saat ini hotel ini sudah tidak sedingin dulu lagi.

Hotel ini juga punya kenangan, dulu aku pernah terlambat datang ke acara hotel ini karena nonton final champion. Aku dimarahin ama boss hua huahua…. Hotel ini mengingatkanku juga akan teman kantorku yang baek Jeng Ayin yang sekarang di Jember. Tahun 2008 kami menginap juga di hotel ini.

Nah, pas nginep lagi di kamar ini adalah kali ketiga, kami menginap, kebetulan sedang ada final Copa Del Rey antara Real Madrid Vs Barcelona, dan yang menjadi juaranya adalah Real Madrid.

Di kamar 1502, di lantai dua, aku banyak bercerita dengan Direktur QITEP P4TK Bahasa Ibu Felicia, seru banget. Ternyata dia adalah temannya Ibu Melani dan Pak Eka Budianta, dia cerita banyak juga tentang UI. Menyenangkan sekali bisa menginap di Cipayung, sejenak lari dari keramaian ibukota

Aku dan Felicia

Aku dan Felicia

Posted in Artikel, iseng | Tinggalkan komentar

Wisata Kota Tua

Pada 25-26 Maret 2010, Aku ama teman-teman sekantor mengikuti Rapat Sinkronisasi di hotal Batavia, daerah Kota Tua deket mangga dua, lumayan makanannya enak-enak dan yang lebih asyik lagi saat waktu luang bisa jalan-jalan ke wisata kota tua yang tak jauh dari hotel, bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Mukti, Aku dan Supri

Mukti, Aku dan Supri

Dari arah hotel Batavia, kami bertiga jalan kaki menuju jembatan. kemudian belok kiri Sepanjang perjalanan gedung-gedung menjulang tinggi dengan jendela-jendela yang besar. Jembatan yang kami lewati dibawahnya ada kali besar yang membelah kota tua.

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Usai melewati jembatan, kami berjalan menyusuri bangunan-banguna tua yang sudah pada terkelupas cat dan temboknya. Tapi justru disitulah menariknya bangunan ini. Kami pun berfoto bersama. Mas Mukti, aku dan Supri foto bergantian satu sama lain.

Disamping Bangunan zaman Belanda

Disamping Bangunan zaman Belanda

Setelah berjalan melalui lorong- lorong gedung tua, kami akhirnya sampai di kantor gubernur pada zaman dulu yang bersebrangan dengan kantor pos besar. Sebelum kantor pos itu ada sebuah kafe yang lumayan asyik. Kafe itu masih mempertahankan arsitektur lama, tapi dipadukan dengan interior yang modern. Kafe itu namanya Kafe Batavia.

Di depan Kafe Batavia

Di depan Kafe Batavia

Usai dari Kafe Batavia, kami berjalan-jalan di tengah lapangan yang ramai oleh pengunjung. Di sekeliling lapangan banyak diparkir sepeda-sepeda yang disewakan atau biasa disebut ojeg sepeda. Tapi uniknya, sepeda yang disewakan ini diberi topi di depannya yang memberi kesan nyonya dan meneer pada zaman Belanda dulu. Di dalam lapangan banyak orang berboncengan dan berpasang-pasangan, ada juga para remaja yang sedang melukis dan para fotografer mengabadikan momen-momen klasik di wisata kota tua. Senja yang menarik.

Di depan sepeda rias

Di depan sepeda rias

Setelah capek jalan-jalan selama kurang lebih satu jam menikmati kota tua, akhirnya kami kembali ke Hotel Batavia, karena waktu menjelang malam. Meskipun pegel, tapi cukup refreshing jalan-jalan di senja hari. Setelah di hotel kami makan malam dan melanjutkan acara sampai penutupan.

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Posted in Foto dan Lukisan | Tinggalkan komentar

Bubur Candil Ketela Rambat

Bubur Candil ketela rambat

Bubur Candil ketela rambat

Aku mendapat resep ini dari Bu Hardi, tetanggaku depan rumah yang sering bikin bubur candil. Aku pernah dikasinya dan setelah kucoba ternyata enak. Akhirnya aku bikin sendiri. Bubur ini juga sering aku bikin kalau lagi hari libur sabtu atau minggu dan ada temen atau saudara yang datang.

Mas Arif juga seneng ama bubur candil ini, kalau bikin pasti dimakannya sampai abis. Aku juga senang sebagai makanan selingan. Rencananya pada bulan puasa nanti mungkin bakalan sering bikin bubur ini karena bikinnya juga gam

Bubur candil ketela rambat
250 gr ketela rambat potong kecil-kecil atau segi empat
50 gr tepung kanji
100 ml air
200 gr gula jawa / gula merah
500 ml air
Saus santan:
500 ml santan
½ sdt garam
1 lbr daun pandan.
Cara pembuatan

Kupas ketela rambat, cuci bersih, potong dadu. Masukkan satu liter air dan Rebus ketela rambat yang telah dipotongi sampai empuk kurang lebih 15 menit, kemudian masukkan gula yang sudah dicairkan, setelah itu tepung kanji diberi air dulu atau dicairkan kemudian masukkan dalam panci berisi rebusan ketela rambat. Aduk-aduk hingga merata sampai kental dan matang. Setelah matang buat saus santan secara terpisah. Rebus santan di panci terpisah dengan dikasih garam dan daun pandan. Lalu tiriskan

Cara mengidangkan
Tuangkan bubur yang kental ke dalam mangkok, terus tuang santan. Hidangkan selagi panas.
Selamat menikmati

Maaf, fotonya kecil, soalnya diambil dari BB

Posted in Resep Favorit | Tinggalkan komentar

Perjuangan Kurir mempertahankan amanah dan cinta

Resensi Film: Paris Express

Paris Express

Paris Express

Hari Jum’at yang lalu, aku sama rini nonton film berjudul Paris Express di Pejaten Village Pasar Minggu. Kami nontonnya jam 9 malam. Film berjudul asli LE COURSIER merupakan Film drama hasil produksi Europcorp ini memiliki durasi 99 menit ditulis dan disutradari oleh Herve Renoh, dengan melibatkan beberapa bintang film terkenal seperit Michael Youn, Geraldine Nakache, Jimmy Jean-Louis dan Didier Flamand.

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Film ini dimulai dari perjalanan Sam yang sering melanggar rambu lalu lintas demi memenuhi janji dan kepuasan konsumennya dalam “pengiriman barang ekspress” di tempatnya bekerja. Karena kenekatannya ini mengharuskan para pengguna jalan di Paris harus berhati-hati dalam melangkah dan berjalan di sudut kota tersebut. Semua harus waspada akan jasa pengiriman barang ekspress di sana yang kebetulan melintas dengan cepat.
Di sepanjang jalan, baik itu dari multikultural hingga perancang busana Paris, dari Montmartre hingga ke Champs-Elysees, dan dari trotoar hingga galeri mewah digunakan seorang kurir pengiriman barang bernama “Sam” dengan mengendarai skuternya.

Peran antagonis

Peran antagonis

Meski sehebat dan sekeras apapun usaha Sam tidak akan pernah mendapat bonus dari atasannya dan selalu kalah bersaing dari rekannya, tidak dapat menghindar dari ayahnya yang selalu ingin bertemu.
Beprofesi sebagai petugas jasa pengiriman ekspres ternyata menjadi motivasi Sam untuk mendapatkan Nadia, kekasihnya. Bahkan ada beberapa scane di Film ini yang menjadi puncak dimana Sam akhirnya merubah hidupnya secara total saat akan menghadiri pernikahan adiknya.

Bersama Louisa

Bersama Louisa

Saat akan menghadiri acara adiknya tersebut, Sam memiliki satu pengiriman barang lagi dan tanpa ia sadari, pengiriman terakhir ini akan membawanya ke pusat pencurian lukisan berharga. Pengiriman barang yang mengubah hidupnya dari yang normal menjadi penuh adrenalin, peluru dan aksi kejar-kejaran di kota Paris dengan skuternya.

Sekelumit penggalan film Paris Express ini membuat penasaran untuk menikmati asyiknya kisah Sam dalam perjuangan mengantar kiriman maupun mendapatkan Nadia ceweknya, walau sangat sibuk sebagai kurir.

Posted in Resensi | Tinggalkan komentar

Membuat Karpot dan Teras Rumah

Sudah hampir empat tahun kami tinggal di Pamulang Elok blok P-1/21. Namun sejak dibuat pagar dan bangun dapur, kami belum memperbaiki apapun selain mengecatnya. Nah, pada akhir Februari kemarin saya dan mas arif berencana membuat karpot dan teras depan.

Karpot bagian depan pintu, kami buat setengahnya aja atau sepanjang cukup badan motor, bagian pinggir kami tembok dan bagian atasnya ditutup. Sehingga dengan ditutupnya bagian atas, secara otomatis air tidak sampai ke depan pintu dan motor pun tertutup.

Karpot Bagian depan

Karpot tampak depan

Karpot sebelah kanan kami buat hampir ful memanjang ke arah pagar. Namun, kami menyisakan tanah sedikit untuk beberapa tanamanku yang sudah terlanjur disitu seperti pohon jaruk limo, beringin, beringin korea dan bunga.

Karpot bagian samping

Karpot bagian samping

Untuk membuat karpot dan teras depan, kami membawa tukang yang namanya mas Heru (adiknya pak agus mama angga) dan ada keneknya iparnya dia. Butuh waktu sekitar 17 hari untuk membangun karpot dan teras depan ini agar bener-bener selesai sesuai keinginan. Kami juga membeli kayu-kayu yang bagus untuk rangka bagian atas juga GRC yang tahan lama agar menjadi lebih kuat.

Karpot

Karpot

Untuk membuat karpot dan teras ini kami menghabiskan kurang lebih 7,5 juta. Biaya diatas sudah termasuk biaya tukang. Alhamdulilah kami puas dengan kerjaannya mas Heru. Kami pun mulai menata kembali tanaman yang sempat terbengkalai saat membangun. Karena bagian pinggir di atas karpot menyisakan ruang kosong, maka kami pun menanam tanaman gantung supaya halaman depan rumah kami lebih sejuk.

Tanaman Gantung

Tanaman Gantung

Tidak hanya bagian depan yang kami tanami pot gantung, di bagian kiripun kami memberinya tanaman gantung , hanya saja belum banyak. Pengennya sih gantungin bunga anggrek, cuma masih enggak tahu mau beli dimana bunganya. Oh ya, kemarin kita juga ganti keramik depan dan masih banyak sisa keramiknya, dipake buat bikin tempat duduk di depan halaman, dibawah pohon ceri, lumayan adem buat nongkrong atau tempat mas arif merokok.

bunga gantung-2

bunga gantung-2

Posted in Rumah | Tinggalkan komentar

Liburan ke Taman Wisata Matahari

Bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, pada 5 Maret 2011, kami di lingkungan komplek Pamulang Elok mengadakan Family Gathering dengan melakukan kunjungan ke Taman Wisata Matahari di Cilember Bogor. Kami bangun subuh karena jam 6 harus kumpul dan berangkat di pintu gerbang.

di bis

Naek bis kumpul jam 6

Karena macet dijalan, terutama di pintu tol jagorawi dan arah ke puncak, kita yang seharusnya nyampe jam 9, sampai taman matahari jam 10. Akhirnya kami turun dari bis dan berfoto dulu sama anak-anak.

foto dulu

Sebagian rombongan foto dulu

Sampe tempat lokasi hujan deras melanda, wah para tetangga lainnya yang gak bawa payung, kehujanan dan sibuk mencari tempat berlindung, akhirnya kita pun melanjutkan menuju lokasi berkumpulnya kelompok pamulang elok dengan suasana hujan gerimis, padahal lokasinya jauuuuuh banget. Sampai di lokasi sekitar jam 12 siang kita makan dulu menunya ayam bakar.

makan siang dulu di saung

makan siang dulu di saung

Usai makan siang, kita keliling naik berbagai wahana seperti air terjun, berenang, mobil safari, flying fox dan lain-lain aku sama mas arif naik wahana air dan mobil dafari

Kita naik wahana air

Kita naik wahana air

Oh ya disana juga banyak aneka jenis ikan yang dipelihara dengan baik. Kalau anda ke taman matahari ini siap-siap aja bawa baju ganti ya, jangan lupa. Karena pasti akan berbasah-basahan, apalagi kalau kena hujan jangan lupa bawa payung. Lebih menyenangkan lagi kalau bawa anak-anak, wah seru…

aneka macam ikan

Aneka Macam ikan

Setelah selesai naik wahana air, kita naik mobil safari keliling taman matahari, wah luas banget deh, tiap wahana disini bayarnya juga terjangkau. Habis itu kita pulang makan bakso dan beli oleh-oleh bunga kering. Puas banget main disana, kapan-kapan pengen bawa keluarga besar main lagi ke taman wisata matahari. Kami sangat terkesan dengan tempatnya yang sangaaaaaaaaaaaaaaat luas dan wahananya yang banyak dan tiketnya terjangkau. Jadi kalo liburan main ke taman matahari aja ya, jangan lupa bawa payung, baju ganti, jajanan dan uang yang banyak heueheue

menikmati liburan di wahana air

menikmati liburan di wahana air

Posted in pribadi | Tinggalkan komentar