Ketika Gladiol Bersemi
Setelah serial Cerita di Balik Kisah yang menceritakan Si Kun San, yang disiarkan di DAAI TV setiap jam 7, aku benar-benar menjadi kecanduan lihat drama DAAI TV, karena pada jam 9 ada siaran Ketika Gladiol Bersemi (KGB). Sebelumnya aku gak tahu jika pada 2007 drama ini sudah pernah disiarkan. Setelah aku cari di internet, ternyata banyak sekali penggemar serial ini.
Ketika Gladiol Bersemi merupakan sebuah drama seri televisi yang ditayangkan stasiun DAAI TV Jakarta. Diangkat dari kisah nyata pengusaha-pengusaha sukses dari keluarga Pak RT Gao yang tinggal di Taiwan. Beruntung saya bisa mengikutinya meski bukan dari awal benar. Karena banyak hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dalam hidup ini.
Keluarga Pak RT Gao awalnya adalah sebuah keluarga petani yang hidup di Danau Rebung, yakni sebuah wilayah gunung bambu yang tandus dan susah ekonominya. Keluarga ini terdiri atas:
Kakek. Ia seorang yang begitu mencintai sastra sehingga berkenan memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para tetangganya. Ia pun rajin memberikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat bijak kepada cucu-cucunya.
Pak RT Gao. Ia seorang petani yang tekun, ulet, senang berderma dan suka membantu orang lain. Ia rela mengeluarkan hartanya untuk mereka yang memerlukan. Ia cerdas, senang melakukan riset tentang tanaman bunga dan selalu bekerja mulai dinihari dan pulang pada petang hari.
Ibu RT. Ia adalah tipe wanita yang hemat. Tidak suka berfoya-foya. Setiap pengeluaran perlu pertimbangan yang matang. Meski terkadang dianggap terlalu berlebihan, tapi sebenarnya sikap itulah yang justru bisa membuat keluarga Gao bisa eksis. Bisa dibayangkan bila ibu tidak bersikap hemat. Tentu anak-anaknya akan sulit mendapatkan pendidikan yang memadai.
Lokasi syuting drama ini sekarang menjadi daerah kunjungan wisata. Pada saat lagi booming, sekitar Sept-okt 2005, ada beberapa tour lokal yang menyelenggarakan paket wisata menuju titik-titik syuting drama ini di gunung Yang Ming (Yang Ming Shan).
Drama ini merupakan drama Daai TV yang paling cepat menyebar hanya dari mulut ke mulut.Ketiga saudaranya yang perempuan akhirnya juga bergabung di Tzu Chi dan salah satunya menjadi relawan di Stasiun Daai TV Taipei. Hingga hari ini, di desanya di Yang Ming-shan, keluarga Gao masih menjadi keluarga yang sangat dihormati, meskipun anak-anaknya sendiri sudah jarang ke sana. Drama ini mengangkat posisi Daai TV di Taiwan ke posisi 3 untuk waktu prime time yang persaingannya sangat ketat.
Melihat drama ini aku jadi lebih bersemangat, mengingat aku juga berasal dari keluarga besar. Tidak jarang aku menangis tertawa dan termenung mengingat tingkah mereka. Apalagi usai acara ini selalu ada wawancara dengan para tokoh asli maupun aktris yang berperan.
Sangat inspiratif dan menyenangkan
Jangan Lupa Menonton yak…
17 tanggapan so far ↓
and_if // Mei 22, 2008 pada 4:38 am
iya setuju.. banyak yang bisa kita ambil dari drama ini.. aku juga jadi seneng nonton DAAI TV coz ini stasiun TV beda dari yang lain…
wah… dah pernah di tayangin ya 2007?
aku baru tau nih…
untungnya aku nonton dari episode awal (walopun gak dari episode 1)
dari keluarga GAO mang banyak yang bisa diambil pelajarannya…
realylife // Mei 22, 2008 pada 11:04 am
ayo berjuang menjadi yang terbaik
tmarlina // Juni 2, 2008 pada 7:51 am
gw juga penggemar gladiol meski gak ngikutin dari awal. coba sinetron indonesia lebih membumi kayak gitu, jangan cuma jual mimpi dan kemewahan doang…salut buat keluarga RT Gao!
metha // Juni 4, 2008 pada 6:04 am
film ini sangat menyentuh krn mengajarkan kdp kita tentang keluarga yang harmonis dan hemat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari
ayung // Juni 4, 2008 pada 6:06 am
dramaaaaaaaaaaaaaaaa ya sssssssaaaaaaaangat beguuuuuuuuuuuusssssssssssssss tetaplah menampilkan daram2 yang berasal dari kisah nyataaaaaaaaaaaaaa,,chayo
twinklegl0ry // Juni 4, 2008 pada 6:11 am
daai tv chaaaaayo ya tetap pertahankan menjadi acara tv nomo.1 diindonesiaaaaaaaa
————————————————————
aku suka cerita nyata: ketika gladiol bersemi(ming zhong-cai shuang) dan suatu cobaan (sin kun san)
lifehappy // Juni 4, 2008 pada 6:13 am
semangaaaaaaaaaaaat
ayung-metha // Juni 4, 2008 pada 6:19 am
aku suka semua film yang ditayangi daai tv
selain utk pelajaran hidup tapi juga kita dapat mencontohkan dalam kehidupan sendiri2
kusnia nasser // Juni 6, 2008 pada 8:05 am
aku seneng sekali dan bersyukur ada serial yang memberikan nilai2 luhur kehidupan bagi penonton manapun di dunia . mudah2an bisa mengekang akhlak generasi mendatang menjadi manusia berkualitas luar dalam , beragama, bermoral sekaligus pekerja keras …
Eva // Juni 6, 2008 pada 2:28 pm
Wah seneng banget neh, KGBku banyak yang komentar. Btw, hari kamis ampe jumat kemarin aku ke Jogja gak lihat beberapa episode (31-36) ada yang mau cerita gak ya hehehe…Thanks for comment
ruth // Juni 6, 2008 pada 3:26 pm
bener2 cerita yang bagus.
aku ntn cerita ini setelah ibu ntn berhari2 di daai, sejak saat itu gag pernah kelewatan 1 seripun!
aaahhh akhirnya ming zhi byusul ke amerika ma A mi!
A MI UDAH HAMIL!!!
SENANG!!!!
fianinuri // Juni 10, 2008 pada 1:44 am
aku dan mamaku seneng banget nonton drama ini. sampai saling sms an ngingetin kalo ada si ming shan di behid the scenes :).
rembo lazuardi // Juni 11, 2008 pada 9:27 am
ya ceritanya beda dengan cerita serial tv yang kebanyakan sekarang di putar. Ketika gladiol bersemi ceritanya sangat bagus dan membangun good untuk daai tv
janet // Juni 17, 2008 pada 8:34 am
Bentar lagi dramanya mo habis lo…
Tapi aku nyesel gak nonton ep. 46 & 47 nih.
Ada yang mo ceruta nggak ?
erni // Juni 19, 2008 pada 10:25 am
Setelah bertahun kita disuguhi sinetron-sinetron yang sangat tidak mendidik dan bahkn merusak akhlak - mengikuti drama Ketika Gladiol bersemi sungguh menemukan makanan jiwa yang sarat makna….. Semoga ini bisa menjadi cermin yang mendidik buat pertelevisian di negeri kita. Amin
padmi // Juni 23, 2008 pada 4:41 am
yak, setuju…
saya juga suka dengan ceritanya, banyak pelajaran yg dapat diambil.
moga sinetron Indonesia juga bisa menghadirkan serita yg sarat makna
norie // Juni 23, 2008 pada 12:14 pm
saya juga suka serial itu.
Tinggalkan Komentar