Torehan Kisah dan Perjalanan

Entries categorized as ‘Pendidikan’

Belajar Seperti Menonton Sinetron

Desember 13, 2007 · 1 Komentar

Juara I Guru Berprestasi Tingkat SD 2007: Sri Rahayu

Belajar Seperti Menonton Sinetron

Sri Rahayu memanfaatkan multimedia sebagai media pembelajaran. Menjadikan belajar Ilmu Pengetahuan Alam tidak membosankan. Prestasi anak didik meningkat tajam.

Sebentuk senyum tiada henti mengembang dari bibir Sri Rahayu. Ketika itu, perempuan berperawakan tinggi dan berkulit kuning langsat itu diumumkan sebagai guru berprestasi tingkat nasional untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Dengan mengenakan jilbab putih dan seragam biru dongker, ia pun bersalaman dengan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dengan bangga.

Modal utama yang menjadikan Yayuk, nama sapaannya, terpilih menjadi guru berprestasi adalah karena karya ilmiah yang dibuatnya dinilai sangat bagus dan inovatif. Karya ilmiah yang berjudul Pembelajaran Tata Surya Menggunakan Multimedia di SD itu telah mencuri hati para juri di tingkat nasional.

Padahal, menurut perempuan kelahiran Magelang 10 Januari 1969 itu, ide menulis karya ilmiah itu sangat sedehana. Gagasannya lahir setelah ia memperhatikan kebiasaan anak-anaknya menyaksikan iklan atau sinetron di televisi.

Penayangan iklan dan sinetron yang diulang-ulang membuat kedua anaknya cepat hafal dan secara reflek akan terus mengingatnya. Tanpa pikir panjang, Yayuk langsung menuliskan konsep pembelajaran tentang tata surya dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan sehari-hari.

“Pada awalnya menyusun karya ilmiah ini memang sulit karena banyak kendala,” katanya. Namun, ia sangat yakin dengan langkah yang ia tempuh. Setelah konsep matang, ia lantas mendiskusikannya dengan suami untuk mempersiapkan segala perangkat yang akan ia gunakan.

Gayung pun bersambut. Didukung kemahiran suaminya menggunakan komputer, rencana pun berjalan mulus seperti melaju di atas jalan tol. “Saya membuat skenario dan suami saya merancang perangkat multimedia dalam bentuk compact disk (CD),” katanya.

Ia ingin agar pelajaran tata surya yang diajarkannya menarik para murid seperti mereka menonton sinetron. “Bahkan sampai hafal soundtrack lagunya,” ujar Yayuk sambil tertawa.

Yayuk lalu menunjukkan hasil karyanya pada GURU ketika ditemui di Hotel Sheraton Media, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dengan sigap, ia mengeluarkan laptop paling gres telah menggunakan piranti Windows Vista. Sejenak ia memperlihatkan karya ilmiahnya tanpa bermaksud menggurui.

Presentasi singkat Yayuk kepada GURU cukup ringkas, tajam, dan jelas. Begitu juga yang ia lakukan di hadapan dewan juri ketika berkompetisi dengan ratusan guru se-Indonesia. Dalam presentasi yang dilakukan pada pemilihan guru berprestasi tingkat nasional itulah karyanya membawa Yayuk menjadi juara I untuk tingkat SD.

Yayuk sendiri telah menerapkan metoda itu di sekolahnya. “Hasilnya memuaskan,” ujar ibu dua putri itu. Buktinya terlihat dari nilai IPA untuk mata pelajaran Tata Surya yang diperoleh ke-35 siswanya. Hasilnya jauh berbeda dibanding ketika ia masih menggunakan metode sebelumnya.

Pada saat evaluasi siswa, dengan metode ceramah, dari 35 siswa, 25 di antaranya mendapat nilai IPA di atas 7. Sisanya mendapat nilai di bawah 7.

Setelah pembelajaran melalui multimedia hasilnya melonjak tajam. Rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 81,0. Sebanyak 32 anak mendapat nilai di atas 7. Artinya, hanya 3 anak yang mendapat nilai di bawah 7. “Luar biasa sangat menggembirakan hasilnya,” katanya. Karena itu, ia mendiskusikan juga karyanya itu di Kelompok Kerja Guru.

Selain penggunaan multimedia saat belajar, Yayuk juga membuat CD Tata Surya yang bisa dimiliki setiap siswa. Dengan CD yang dicetaknya, siswa bisa belajar kapan saja di rumah. Selain hemat waktu, cara itu juga dinilai efektif. “Penggunaan CD pembelajaran dapat memudahkan siswa untuk mengulang-ngulang pembelajaran baik di sekolah maupun rumah,” ujarnya.

Tapi, Yayuk tak hanya mengandalkan efektivitas penggunaan CD. Ia juga menerapkan metode simulasi saat mengajar Tata Surya. Ia berpendapat, simulasi pada pembelajaran tata surya dapat digunakan untuk melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.

“Selain itu, saat penggunaan simulasi siswa juga belajar untuk bertoleransi antar sesama,” ia menambahkan. Dengan adanya toleransi dan rasa kebersamaan, Yayuk berharap materi Tata Surya dan mata pelajaran IPA menjadi lebih menyenangkan.

“Jika karya ilmiah saya ini diterima oleh guru-guru lain, saya ingin memotivasi mereka untuk berkarya,” katanya. Ia juga mengajak para guru untuk menjadikan IPA sebagai mata pelajaran yang menarik dan mencerdaskan anak didik.

Yayuk adalah guru SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim (YPK), Bontang, Kalimantan Timur.
Sebelum mengajar di sana, Yayuk mengajar mata pelajaran Biologi di SMA Sulaiman Sleman, DIY. Ketika itu, ia tak menduga nasib akan membawanya menjadi guru SD.

Soalnya, ketika ia melamar pekerjaan, skripsinya tertunda karena masalah biaya. Keadaan itu kian parah karena dosennya pergi ke luar negeri. Selain itu, ia terlambat menerima surat pengumuman yang menyatakan ia diterima untuk mengikuti tes selanjutnya. “Tapi alhamdulilah saya masih bisa mengikuti tes dan lolos,” ujar perempuan yang dulu bercita-cita menjadi dokter itu. .

Akhirnya, pada 1996, sarjana lulusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta itu berangkat ke Bontang. Pada awal mengajar, Yayuk langsung ditempatkan sebagai guru kelas 4 SD. Saat itu ia juga harus mengajar Matematika, IPA dan IPS.

Namun, tugas itu tidak berlangsung lama. Kepala sekolahnya kemudian menempatkan Yayuk menjadi guru mata pelajaran IPA. Tanpa terasa, pekerjaan itu telah dijalaninya selama sebelas tahun. Ia telah melewati pelbagai macam kenangan pahit dan manis mengabdi untuk pendidikan di Pulau Borneo, yang jauh dari tanah kelahirannya.

Yayuk memang bukan guru biasa. Ia telah mengukir beragam penghargaaan dan prestasi baik di tingkat lokal maupun nasional. Prestasi itu, antara lain, Juara I Laga Prestasi di TVRI Samarinda, Juara II Lomba Bidang Studi IPA, pemenang perunggu kategori Multimedia YPK Bontang, Peringkat II Guru Berprestasi Bontang 2006, serta Juara I Guru Berprestasi Bontang 2007.

Bagi perempuan yang berasal dari keluarga petani di Magelang itu, menjadi guru adalah ibadah. Penggemar olah raga bols volley itu memang mempunyai prinsip bahwa apapun yang ia lakukan adalah ibadah. Karena itu, setelah melakukan kerja keras sejak tingkat kabupaten hingga meraih prestasi terbaik di tingkat nasional, tidak banyak yang diinginkan Yayuk.

Ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya hadiah berupa uang tunai dan laptop dari Depdiknas. Bahkan, sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah tiada tara yang telah diberikan Tuhan padanya, Yayuk ingin segera berziarah ke tanah suci.

Sebenarnya, keinginan untuk menunaikan ibadah haji itu sudah lama ia idam-idamkan. Namun, niatnya itu selalu tertunda karena tabungannya tak kunjung mencukupi. Karena itu, ia menilai saat ini sebagai kesempatan emas baginya untuk segera melaksanakan cita-citanya itu. “Saya ingin memenuhi panggilan Allah, mengunjungi-Nya di rumah Allah, saya ingin naik haji,” ujar pembaca serial novel Harry Potter itu berseri-seri.

EVA ROHILAH

Kategori: Pendidikan

SERTIFIKASI ITU MENGEMBAN MISI KENABIAN

Desember 13, 2007 · Tidak ada Komentar

SERTIFIKASI ITU MENGEMBAN MISI KENABIAN
wawancara Giri Suryatmana

Ia sosok yang humanis. Dibalik sikapnya yang ramah dan penyabar, selera humornya juga tinggi. Dialah Ir. Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Sesditjen PMPTK) Depdiknas. Siapa yang menyangka jika lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan bergulat dengat pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi salah satu instrumen penting dalam dunia pendidikan.

Meskipun demikian, bagi ayah dua putri ini, dunia guru bukanlah hal yang baru. Sang ayah yang berdarah Sunda, Atmo Suryatma adalah seorang guru bahkan salah seorang pendiri Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), sedangkan ibunya yang berdarah Jawa, Retno, juga seorang guru lulusan Normal School, sekolah keguruan zaman Belanda yang dalam perkembangannya berubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Bagi lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, sertifikasi guru harus diawasi betul pelaksanaannya mengingat proses ini sangat penting bagi masa depan tenaga pendidik dan sifatnya yang berkelanjutan. Disela-sela kesibukan dan jadwal kerjanya yang padat, lelaki yang memiliki hobi beternak ikan ini berbicara panjang lebar kepada Eva Rohilah dari Majalah GURU tentang sertifikasi guru dan rencana strategis percepatan peningkatan mutu di daerah terpencil.

Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan terkini pelaksanaan sertifikasi?

Secara normatif kan sudah jelas target sertifikasi saat ini 200.450 guru, 20.000 di antaranya adalah guru yang masuk daftar tahun 2006. Sebanyak 180.450 guru didaftar pada tahun 2007. Sampai saat sekarang dari laporan yang kami terima dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menyelenggarakan tes hasil penilaian portofolio itu tingkat kelulusannya di bawah 50%. Nah, dari situ nanti akan tercipta proses yang luar biasa dan ada satu kata kunci yang bisa kita pelajari dari proses uji sertifikasi ini, yaitu proses penertiban penugasan guru, terlepas dari alasan merepotkan guru dan lain sebagainya.

Dalam sertifikasi itu disebutkan guru minimum mengajar 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang ketahuan hanya mengajar enam jam, delapan jam dan lain sebagainya. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien.

Dimana letak tidak efisiennya?

Begini, perbandingan jumlah guru dengan murid di negara kita dibanding dengan perbandingan jumlah guru di ASEAN sangatlah jauh, guru di Indonesia ini tergolong mewah. Karena satu guru perbandingannya 14 siswa, bandingkan dengan Malaysia 1:25, Korea Selatan 1:30 siswa. Akan tetapi permasalahannya distribusi yang tidak sempurna, guru di Indonesia terpusat di kota, sedangkan di daerah terpencil itu kekurangan, hampir 70% kekurangan guru.

Jadi memang ada ketimpangan antara distribusi guru di pusat dan daerah, kenapa bisa demikian?

Iya, memang timpang. Mungkin selama ini manajemen Human Resource Development (HRD) penataan guru itu tidak tertata dengan bagus, mungkin ya dulu mohon maaf sebelum ada Ditjen PMPTK, dana untuk guru besarnya hanya 3% APBN. Kalau sekarang anggaran guru sudah naik menjadi sekitar 17%. Seandainya dana pendidikan naik menjadi 20% APBN, maka hampir 50% dana itu untuk guru.

Berapa dana yang dibutuhkan jika 2,7 juta guru sudah bersertifikat?

Jika 2,7 juta guru sudah bersertifikat kita butuh dana antara Rp 52-53 triliun untuk memberi tunjangan di luar gaji. Gaji PNS dan gaji tunjangan sekitar Rp 45 triliun. Jadi layaklah kalau memang nanti jika anggaran pendidikan itu 20% dari APBN, maka minimal setengah dari dana tersebut seharusnya untuk guru. Sehingga, melalui proses sertifikasi ini sekaligus sedang menata ulang ketidakseimbangan distribusi, ketidakefektifan jam mengajar dan lain sebagainya. Sulit sekali mengikuti standar 24 jam karena banyak yang terpusat di kota.

Bisa dipertegas lagi, apa sebenarnya filosofi pelaksanaan sertifikasi?

Sebenarnya kita ingin meneguhkan kembali peran guru. Jika kita cermati, profesi guru itu emang agak unik dan berbeda dengan profesi lain yang sangat teknis seperti akuntan, misalnya. Di luar profesinya sebagai pendidik, guru itu mengemban misi kenabian atau misi kerasulan (profetis), dia itu kan pembimbing umat. Bayangkanlah anak Taman Kanak-kanak (TK) yang masih belum tahu apa-apa jadi pintar, itu kan berkat guru yang melakukan fungsi rasul, pembimbing umat. Jadi bagi guru yang sudah bersertifikat itu, harus tercermin adanya ruh profetis.

Maksudnya guru yang bersertifikasi mengemban misi kenabian?
Iya, karena para guru mengemban amanah umat, dan terus menerus seorang guru harus mencerdaskan generasi baru, sampai melahirkan generasi cerdas yang bisa mengelola alam dan menciptakan masa depan. Makanya dulu proses untuk menjadi guru itu tidaklah mudah. Karena harus melewati berbagai macam ujian.

Mengapa sertifikasi telat pelaksanaannya?

Alasan utamanya, ya payung hukum. Pada 2006, kami menyiapkan kira-kira 20.000 guru mengikuti sertifikasi. Dananya disiapkan sekitar Rp 350 miliar. Rencananya, sertifikasi dilaksanakan November 2006 sampai Maret 2007. Tapi peraturan pemerintah yang mengatur tentang guru belum ada. Maka disiasatilah lewat peraturan menteri.

Setiap kebijakan pemerintah itu terkait dengan perundangan lain. Sertifikasi berkaitan dengan aturan otonomi daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah, Ada tunjangan profesional, tunjangan fungsional dan tunjangan lainnya. Jadi perlu disinkronkan dengan aturan lain.

Lalu pembagiannya menjadi seperti apa?
Akhirnya dari draft yang sudah lolos itu, tunjangan fungsional untuk guru yang sudah PNS itu menjadi kewenangan daerah melalui DAU (Dana Alokasi Umum), sedangkan tunjangan fungsional guru non PNS (swasta) itu menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Akan tetapi jika tiap daerah punya kebijakan sendiri, berapa besarnya insentif guru terserah daerah.

Setelah sertifikasi bergulir, bagaimana reaksi para guru?
Ada reaksi beragam dari guru. Yang positif, guru semakin meningkatkan kompetensi. Selama ini kompetensi guru tidak pernah diukur. Seharusnya setiap dua tahun diperbaharui kayak SIM. Tapi PGRI inginnya sertifikat berlaku seumur hidup.

Dari hasil penilaian portofolio ditemukan kecurangan di beberapa rayon, apakah sudah ada evaluasi?

Ya, secara otomatis sudah ada mekanismenya. Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Kita sudah menginstruksikan pada LPTK dan dinas agar menyisir. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis.

Bagaimana dengan minimnya sosialisasi, karena di beberapa daerah banyak yang belum tahu, sepertinya peran dinas itu belum maksimal?

Sebetulnya kami cukup lelah dengan proses sosialisasi yang berjenjang dari dinas. Kadangkala hasil rapat koordinasi ditinggal saja di hotel. Jangankan begitu ya, kami minta data guru saja dinas pendidikan kabupaten kota tidak banyak yang eager (tertarik) untuk melaporkan.

Bisa dijelaskan tidak pemilahan fungsi peran Dirjen PMPTK dengan Dirjen Pendidikan Tinggi dalam pelaksanaan sertifikasi?

PMPTK lebih pada memfasilitasi. Mulai dari data gurunya, dimana tempatnya, sampai menggerakkan para guru mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan bahan. Sedangkan yang menguji dan mensertifikasi itu Dikti. Ibarat hajatan pernikahan, PMPTK itu tuan rumah, Dikti, dalam hal ini LPTK sebagai amil yang mengesahkan. Di manapun, tuan rumah pasti paling sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau amil datang aja pas hari-H nya.

Bagaimana peranan KSG, sepertinya kurang maksimal, bahkan pelaksanaan diklat belum terlaksana juga?
Jadi begini, saat ini masih dalam proses pendataan di bawah komando Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik. Sekarang ini kami kerja keras terus siang malam.
Apa evaluasi pelaksanaan sertifikasi tahap awal?

Ada dua evaluasi yang pertama masalah sosialisasi dan yang kedua itu masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan. Misalnya, dalam satu Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) ada 100 orang, selama 10 tahun kan hanya bisa sepuluh tiap tahun, harus ada urutannya. Siapa yang rela menunggu 10 tahun?

Strateginya seperti apa?

Cara yang akan kita lakukan adalah dengan memberikan kesadaran, menggetarkan musyawarah guru. Kami biarkan guru dengan kelompok guru menjadi kelompok kerja yang profesional. Ada segitiga antara kelompok guru, kepala sekolah, dan pengawas. Ke depan, fungsi dinas pendidikan hanya pemberi fasilitas. Kami akan giatkan 80.000 kelompok kerja guru. Mulai 2007, kami meluncurkan ICT Learning Centre untuk mempermudah sosialisasi.

Bukankah ICT hanya dijangkau masyarakat kota, bagaimana dengan daerah terpencil?

Oh tidak, ini justru di daerah terpencil dulu. Kami punya program namanya Percepatan Peningkatan Mutu di Daerah Terpencil.” Seiring dengan adanya bantuan untuk guru di daerah terpencil, kami siapkan juga sumber belajarnya. DPR sudah setuju.

Untuk melatih mereka yang di daerah terpencil agar mampu mengoperasikan ICT dan perangkatnya kami kerjasama dengan kementerian negara pembangunan percepatan daerah tertinggal.

Kategori: Pendidikan

Petualangan Sejati Sejatinya Guru

Nopember 21, 2007 · Tidak ada Komentar

 

Penulis : Butet Manurung

Judul    : Sokola Rimba (Petualangan Belajar Bersama Orang Rimba)

Penerbit : Insist Press, Yogyakarta

Edisi : I, Juni 2007

Tebal : 250 halaman

Harga : Rp 38.000

ISBN : 979-3457-83-x

PETUALANGAN SEJATI SEJATINYA GURU

sokola-rimba.jpg

Ibuk, ado akehlah melawon?

Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?

Ado akeh todo lah tokang molajoko kanti?

(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores, Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Ada episode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu. Ada pula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.

Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnya medan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung

Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di Leuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS - 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.

Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

bersama-anak2.jpg

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.

Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru edisi-4 November 2007

Kategori: Pendidikan

Ketika Musim Sertifikasi Tiba

Nopember 21, 2007 · Tidak ada Komentar

KETIKA MUSIM SERTIFIKASI TELAH TIBA

Setelah menunggu satu tahun delapan bulan, sejak Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diterbitkan, akhirnya pemerintah menggunakan Peraturan Mendiknas No 18/2007 sebagai landasan hukum pelaksanaan sertifikasi untuk guru dalam jabatan. Mulai September 2007, sebanyak 200.450 guru akan disertifikasi. Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah di daftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007.

WAJAH Alidin (40) berseri-seri. Ia adalah salah satu dari 478 guru yang lulus uji sertifikasi kuota 2006 yang diadakan oleh Universitas Negeri Makassar. Artinya, sebentar lagi, guru SD Negeri III Mangkura Makassar itu akan meraih sertifikat pendidik, sekaligus menyandang predikat guru profesional.

Pada Oktober 2007 Alidin menerima tunjangan profesi sebesar sekali gaji pokok. Sebagai seorang sarjana dengan masa kerja pegawai negeri sipil lebih dari 12 tahun, gaji pokoknya sekira Rp 1,5 juta. “Ya, lumayan tambahan rezeki buat menambah kebutuhan rumah tangga serta pendidikan anak-anak,” ujar ayah dari dua anak ini dengan wajah sumringah.

Alidin adalah satu di antara sekian banyak guru yang beruntung mengikuti sertifikasi gelombang awal tahun ini. Sebaliknya, beberapa guru SD yang baru saja melihat papan pengumuman di Lantai III Gedung Rektorat UNM, lesu darah. Mereka, di antaranya, adalah Rahim (guru SDN Sudirman Makassar) dan Ruslan (guru SMPN 12 Makassar). Status kelulusan mereka masih tertunda. Pada lajur nama mereka tertera kode DPG, singkatan dari Diklat Pendidikan Guru. Itu berarti, untuk meraih sertifikat pendidik dan tunjangan profesi mereka harus lebih dulu ikut pendidikan dan latihan dari asesor UNM.


Di lain pihak, yang terpaksa menunda kegembiraan adalah guru-guru yang pada nama mereka tertera kode verifikasi. Namun, mereka ini lebih beruntung karena berkas portofolio cuma butuh penyesuaian karena beberapa lembar berkas ternyata belum sempat dilegalisasi oleh atasan atau pengawas.

Yang paling sedih adalah yang diberi keterangan tidak lulus karena total skornya kurang dari rentang nilai 850—1.500 yang dipersyaratkan. Penyebabnya, macam-macam. Bisa saja yang bersangkutan melampirkan bukti palsu atau hasil plagiat. “Ini soal martabat profesi guru. Jangan main-main,” kata Eko Hadi Pujiono, Ketua Pelaksana Sertifikasi Universitas Negeri Makassar.

OPTIMALISASI DAN FUNGSI KONTROL

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Tujuannya untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru, serta mengangkat harkat dan martabat guru. Proses sertifikasi dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah.

Mengingat pelaksanaan sertifikasi merupakan kerja nasional yang melibatkan banyak pihak, jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan sertifikasi bergulir, Depdiknas mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 056/P/2007 tentang pembentukan Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG). KSG bertugas merumuskan standardisasi proses dan hasil sertifikasi guru, serta melaksanakan harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan sertifikasi guru.

Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) dr. Fasli Jalal, PhD, menjelaskan keanggotaan KSG melibatkan unsur Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti), PMPTK, wakil dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), universitas eks IKIP dan Departemen Agama.

“Konsorsium menjadi governing board untuk mengawasi, mengontrol, dan melakukan pembuatan kebijakan agar proses sertifikasi berjalan dengan baik, transparan, akuntabel dan cost efficient,” ungkap Fasli pada acara koordinasi penyelenggaraan sertifikasi guru dalam jabatan, beberapa waktu lalu.

Aktivitas KSG lainnya adalah melakukan koordinasi antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, dan LPTK dengan KSG. KSG juga melaksanakan monitoring dan evaluasi serta merumuskan rekomendasi dalam rangka pengendalian proses dan hasil sertifikasi guru. LPTK induk ditetapkan di Jakarta, Malang, Solo dan Jogjakjarta.

Tahun ini, sebanyak 200.450 guru kelas dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan baik PNS dan non PNS mengikuti sertifikasi. “Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah didaftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007,” Fasli menjelaskan. Kuota peserta dari berbagai kabupaten/kota ditetapkan sejak awal tahun dan telah dilakukan sosialisasi tatacara uji sertifikasi.

Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 menyatakan sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. “Semua guru yang sudah ditetapkan dalam kuota, mengumpulkan data-data dirinya dalam portofolio, termasuk semua dokumen yang berhubungan dengan kualifikasinya, pengalaman,pendidikan,dan pelatihan,” kata Fasli.

Lebih lanjut, Fasli menjelaskan terdapat 10 komponen portofolio yang meliputi (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, ( 8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

PENILAIAN PORTOFOLIO

Sebulan setelah pelaksanaan sertifikasi berjalan, Fasli Jalal dan Direktur Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Muchlas Samani melakukan jumpa pers mengenai hasil penilaian dokumen portofolio sertifikasi guru, di Gerai Informasi Depdiknas. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta uji sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru.

Sebanyak 31 rayon induk perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan, telah menyelesaikan penilaian tahap pertama dokumen portofolio peserta sertifikasi. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru. Sampai dengan batas akhir penerimaan dokumen portofolio tahun 2006, jumlah dokumen yang telah masuk ke perguruan tinggi menurut daftar peserta dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota adalah 18.864 dari 20.000 kuota tahun 2006. Sisanya belum dikirim ke perguruan tinggi.

“Kepada mereka yang sudah lulus, tunjangan profesi akan langsung dibayar mulai Oktober 2007. Kemudian bagi yang sedang melakukan perbaikan akan kita minta untuk memperbaiki portofolionya dan bagi yang mengikuti diklat akan kita undang untuk mengikuti diklat bersama dengan teman yang kita uji sertifikasi dengan kuota tahun 2007,” ujar Fasli menegaskan.

Sementara itu, Muchlas Samani, yang juga bertindak sebagai ketua tim sertifikasi menjelaskan jika perguruan tinggi telah menyelesaikan penilaian dan menyerahkan hasilnya kepada KSG pada tanggal 25 September 2007. Masih banyaknya dokumen portofolio yang belum dikirim disebabkan adanya penggantian peserta oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota karena peserta yang telah ditetapkan tersebut sudah tidak menjadi guru (pensiun, alih tugas ke pengawas, struktural) dan banyak guru yang terlambat mengirim portofolio ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Hasil penilaian dokumen portofolio yang diterima dari 31 rayon induk perguruan tinggi, 8.484 dinyatakan lulus (48,94%). Sisanya, lebih dari 7.500 mengikuti diklat profesi guru, dan ratusan lainnya melengkapi portofolio.

Sementara itu, peserta lain yang belum diputuskan hasil penilaiannya oleh perguruan tinggi dikarenakan beberapa hal yaitu: peserta tercatat dalam daftar peserta dari kabupaten/kota tetapi dokumen portofolio tidak ada/tidak dikirim, peserta tidak ada nilainya dan sedang konfirmasi dengan perguruan tinggi, dokumen portofolio guru agama, dokumen dikembalikan karena tidak lengkap atau hanya berisi kumpulan fotokopi dokumen, dokumen perlu klarifikasi ijasah, dan dokumen diragukan ada indikasi kecurangan.

Perguruan tinggi telah menyampaikan hasil penilaian portofolio tahap pertama ini kepada Ditjen Dikti, Ditjen PMPTK, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setelah menerima laporan hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi, menginformasikan hasil penilaian tersebut kepada guru yang bersangkutan. Disamping itu, guru dapat langsung melihat hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi melalui website www.sertifikasiguru.org.

Guru yang dinyatakan lulus akan mendapat sertifikat pendidik yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi, dan nomor registrasi guru yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Ditjen PMPTK. Sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru sedang dalam proses penyelesaian.

Guru yang telah dinyatakan lulus sebelum bulan Oktober 2007, memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru, serta memenuhi beban kerja mengajar 24 jam per minggu akan mendapatkan tunjangan profesi terhitung mulai Oktober 2007.

Dokumen yang harus disiapkan guru untuk mendapatkan tunjangan profesi adalah SK kenaikan pangkat terakhir dan SK kenaikan gaji berkala yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah (bagi guru PNS), SK inpassing jabatan fungsional guru bukan PNS yang dilegalisasi oleh kepala sekolah dan yayasan (bagi guru bukan PNS), surat keterangan beban kerja guru mengajar dari kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap serta fotokopi nomor rekening bank/pos.

Jika guru mengajar lebih dari satu sekolah, masing-masing sekolah membuat surat keterangan yang akan digunakan sebagai data pendukung bagi kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap yang akan membuat surat keterangan beban kerja. Pembayaran tunjangan profesi dapat dibatalkan apabila ditemukan bukti bahwa guru yang bersangkutan memalsukan data dokumen yang dipersyaratkan dalam pemberian tunjangan dan sertifikat pendidik yang bersangkutan dinyatakan batal.

Guru yang diputuskan untuk melengkapi portofolio, segera melengkapinya dan diserahkan kembali ke perguruan tinggi yang bersangkutan paling lambat 2 minggu setelah diumumkan. Bagi guru yang dinyatakan belum lulus dan harus mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi guru, segera mempersiapkan diri untuk mengikuti diklat tersebut yang rencana akan dimulai pada November 2007. Perguruan tinggi akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota untuk penjadwalan dan pelaksanaan diklat profesi guru tersebut.

Sesuai Undang-Undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen bahwa pelaksanaan sertifikasi guru menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Oleh karena itu, perlu dukungan dana dari pemerintah kabupaten/kota melalui dinas pendidikan kabupaten/kota dan pemerintah provinsi melalui dinas pendidikan provinsi untuk dapat membantu pendanaan bagi guru yang mengikuti diklat profesi guru tersebut berupa dana transportasi dan uang harian peserta selama mengikuti diklat profesi guru.

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan diklat profesi guru akan ditentukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan setelah berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan dinas pendidikan provinsi. “Sekarang ini LPTK mulai melakukan penilaian tahap kedua yaitu angkatan tahun 2007 dan mempersiapkan diklat profesi yang kita harapkan akan dimulai pada bulan November, sehingga pada bulan Desember semuanya sudah selesai 31 Rayon dari Aceh sampai ke Jayapura,” ungkap Muchlas Samani menambahkan

proses-sertifikasi-di-rayon15lptkuniversitasnegerimalang.jpg

FILOSOFI SERTIFIKASI

Beragam reaksi muncul dari guru, asesor, LPTK dan juga pengamat pendidikan tentang pelaksanaan tahap pertama sertifikasi ini. Masalah sosialisasi, kecurangan, minimnya pemahaman dalam penyusunan portofolio, dan urutan siapa yang duluan disertifikasi menjadi evaluasi bagi KSG dalam pelaksanaan sertifikasi tahap berikutnya.

Rendahnya angka kelulusan dalam penilaian portofolio semakin membuktikan bahwa dengan adanya sertifikasi, semakin ketahuan sejauh mana sebenarnya kemampuan para guru dan ada yang harus dibenahi berkaitan dengan penertiban tugas guru.

Berdasar laporan LPTK penyelenggara penilaian portofolio, tingkat kelulusannya di bawah 50%. Karena banyak yang tak lulus, nantinya akan ada proses penertiban penugasan guru. “Syarat memperoleh sertifikasi di antaranya mengajar minimum 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang hanya mengajar enam jam, delapan jam. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien,” ujar Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.

Selain itu, menurut lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, masalah sosialisasi dan urutan siapa yang duluan disertifikasi adalah dua aspek yang banyak dibahas dalam evaluasi pelaksanaan sertifikasi “Ada dua evaluasi, pertama masalah sosialisasi, dan yang kedua masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan,” ungkapnya singkat.

Berkaitan dengan sosialiasasi Fasli Jalal menjelaskan bahwa perlu dorongan berbagai pihak untuk melakukan sosialiasasi. “Perlu kita jelaskan benar, bahwa pengiriman surat kepada kepala dinas untuk sosialisasi itu memang tidak cukup, maka tahun depan itu kita akan membuat iklan di koran-koran daerah di samping iklan di koran-koran nasional. Di samping itu kita juga membuat website sertifikasi guru, ada juga website PMPTK (www.pmptk.net),” ujarnya penuh semangat.

Berkaitan dengan kecurangan yang ditemui di beberapa rayon, menurut Muchlas Samani, memang ada beberapa kecurangan seperti yang terjadi di UNM Makassar namun jumlahnya tidak signifikan.

“Tingkat kecurangan memang ada, namun sangat rendah. Saat ini LPTK yang bersangkutan sedang menelusurinya. Indikasinya nanti kita panggil orangnya untuk di klarifikasi. Misalnya begini ada dua karyatulis yang nampaknya mirip, kita kan tidak bisa bilang kalau guru itu plagiat, maka kita panggil dua-duanya apakah dia plagiat atau bukan,” tegas lelaki berkacamata itu singkat .

Sejatinya, menurut Giri Suryatmana, beberapa kecurangan dan beberapa kecurigaan terhadap pelaksanaan sertifikasi itu tidak akan terjadi jika para guru menyadari akan filosofi pelaksanaan sertifikasi. Para guru harus menyadari betul perannya sebagai pendidik yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat saja, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis. Filosofi sertifikasi itu sebenarnya ingin meneguhkan kembali peran guru. Karena para guru mengemban amanah umat mencerdaskan generasi bangsa” ujar Giri tegas.

Sertifikasi guru memang merupakan kerja besar nasional. Besar dan ruwetnya pekerjaan terbayang dari jumlah 2,7 juta guru TK-SMA yang harus disertifikasi. Konsekuensinya, butuh tenaga penilai, yaitu ribuan orang asesor dengan kualifikasi dosen yang ditunjuk oleh satuan LPTK. “Tahun ini saja butuh 4.010 asesor,” kata E Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, program sertifikasi guru harus tuntas tahun 2015. Keputusan untuk menyertifikasi guru, kata Mendiknas, sudah dipuji oleh Bank Dunia sebagai langkah luar biasa di dunia. “Sertifikasi semua guru dalam jabatan di Indonesia merupakan kebijakan reformasi terbesar di dunia dalam peningkatan kualitas guru,” ujar Bambang Sudibyo bangga.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru Edisi-4 November 2007

Kategori: Pendidikan

Guru Berprestasi

September 10, 2007 · 1 Komentar

guru-edit.jpg

PAHLAWAN DENGAN PENGHARGAAN

Dibalik penghargaan keteladanan pendidikan dari Depdiknas, tersimpan sekelumit kisah dan keringat perjuangan yang tiada henti. Kategori berprestasi dan berdedikasi tak gampang diraih, terlebih mempertahankannya.

Mengenakan setelan berwarna biru dongker, wajah Sri Rahayu, 38 tahun, terlihat sumringah. Kegembiraannya tidak bisa ia sembunyikan dari bola matanya yang berbinar, saat mendengar ia menjadi Juara I Guru SD Berprestasi Tingkat Nasional. Guru matapelajaran IPA kelas 5 SD Negeri Yayasan Pupuk Kaltim (YPK), Bontang, Kalimantan Timur, ini tak kuasa menahan haru.

”Puji syukur Alhamdulillah. Saya tidak menyangka terpilih,” ujar Yayuk, begitu ia biasa disapa, dengan mata berkaca. Kaharuan Yayuk itu lantaran, perjalanan menuju tangga juara sangatlah panjang. Ia mesti bersaing dengan ribuan guru dari tingkat kabupaten, provinsi hingga berlaga di Jakarta.

Masih terbayang di benak Yayuk, kali pertama datang ke Jakarta. Ia tidak berharap banyak bisa menjadi yang terbaik. Ia hanya mengikuti segala prosedur yang ada dan setiap pembicaraan yang disampaikan nara sumber. Boleh dibilang ia datang ya sekadar menghadiri acara Penghargaan Guru Berprestasi, Guru Pendidikan Luar Biasa, Guru SD di Daerah Khusus/Terpencil Berdedikasi 2007 yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) di Hotel Sheraton Media Jakarta, 12 Agustus lalu.

”Ada 2,7 juta guru di Indonesia, 1,6 juta di antaranya guru negeri. Mereka ini punya potensi sangat besar untuk mencerdaskan 51 juta anak bangsa yang berada dalam usia belajar. Di sini ada 231 guru berprestasi dan berdedikasi. Kita harus mencari cara menyampaikan ilmu yang diperoleh di sini pada guru lainnya yang tidak ikut acara ini,” kata Fasli Jalal, PhD, Dirjen PMPTK dalam sambutannya.

PENILAIAN KETAT

Selama sepekan, 231 guru, yang terdiri dari 132 guru berprestasi, 66 guru dari daerah khusus dan 33 guru pendidikan luar biasa (PLB) mengikuti serangkaian kegiatan. Para guru berprestasi menjalani penilian ketat. Dari tes tertulis hingga wawancara dihadapan dewan juri. Tim juri seleksi SD hingga SMA diketuai Prof. Dr. Gatot Suradji. Anggotanya dari kalangan akademisi, dan widyaiswara dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK). Penilian guru TK Berprestasi melibatkan juri dari Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Seluruh Indonesia (IGTKI)

Sedangkan guru berdedikasi dari PLB dan guru di daerah khusus tidak melalui proses seleksi.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap guru harus melewati tes tertulis dan wawancara yang diajukan oleh tim juri.,” ujar Dra. Dian Mahsuna Mpd, Kasubdit Penghargaan dan Perlindungan (Harlindung) Direktorat Profesi Pendidik tegas.

Juri tak hanya memelototi portofolio para guru. Melainkan juga menguji empat uji kompetensi yang mesti dimiliki guru. Yakni kompetensi pribadi, pedagodik, profesional, dan kompetensi sosial. Setiap guru berprestasi juga diwajibkan membuat karya ilmiah. Karya itu harus ide orisinal guru dalam mengembangkan metodologi pembelajaran dan berupa terobosan pemikiran sesuai bidang studi.

BERTEMU PRESIDEN

Penerima penghargaan guru berprestasi dan berdedikasi, juga kepala sekolah dan pengawas sekolah berprestasi dan berdedikasi, diumumkan di Gedung Depdiknas pada 16 Agustus, sehari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Ke-62 RI. Depdiknas juga memberikan penghargaan keteladanan untuk dosen dan mahasiswa. (Lihat: Ini Dia Para Teladan).

“Para pemenang lomba keteladaan merupakan tokoh panutan yang dapat menjadi teladan dan dapat membudayakan kebutuhan berprestasi di kalangan masyarakat,” kata Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menandaskan.

Para peraih penghargaan mendapatkan uang tunai dan komputer jinjing alias laptop. Semua guru yang sampai seleksi nasional mendapatkan hadiah tabungan senilai Rp 5 juta dari Bank Mandiri. Hadiah uang bagi Juara I hingga Juara III guru berprestasi TK-SMA berturut-tururt menerima Rp 15 juta, Rp 13,5 juta, dan Rp 11,5 juta. Semua finalis mendapat hadiah Rp 10 juta.

Sedangkan semua guru berdedikasi membawa pulang Rp 10 juta dari Ditjen PMPTK, dipotong pajak. ”Para guru di daerah khusus mendapat tambahan hadiah uang dari para istri menteri Kabinet Pembangunan sebesar Rp 4 juta, tanpa dipotong pajak,” Dian Mahsuna menambahkan.

Para teladan ini juga diundang Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri upacara Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di Istana Merdeka. Tentu saja, kesempatan bertemu Presiden dan Ibu Negara menjadi hal sangat istimewa bagi para guru dan kepala sekolah. Mereka yang berasal dari desa atau pulau terpencil seperti mimpi bisa berhadapan langsung dengan presiden. Datang ke Jakarta saja tak pernah terbayangkan.

”Saya baru pertama kali naik pesawat dan pertama kali ke Jakarta. Saya pinjam uang Rp 2.500.000 untuk datang ke sini. Rasanya seperti mimpi. Banyak yang akan saya ceritakan pada murid-murid saya,” ujar Stefnus Nuban, 25 tahun, guru kelas 1 SD Negeri Nenonaheun, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

EVA ROHILAH

INI DIA PARA TELADAN

Juara I Keteladanan Pendidikan 2007
1. Kepala Sekolah Berprestasi:
TK : Endang Supadminingsih, SP, MP, (TK Unggulan Al-Ya’lu, Malang)
SD : Drs Pipip Rosida (SDN Sukadamai 3 Bogor)
SMP : Drs Sunarto MPd (SMPN 2 Boyolali)
SMA : Drs I Nyoman Darta (SMAN 1 Singaraja)

2. Pengawas Sekolah Berprestasi
TK : Drs Jaelani, MPd (Dinas Dikbud Lamongan)
SMP : Drs Ramlyd, MSi (Dinas Diknas Kendari)
SMA/SMK: Maksimum Bounde (Dinas Diknas Kendari)
PLB : Drs Mudjiyono (Dinas Dikbud Wilayah Kedu, Jawa Tengah)

3. Guru Berprestasi:
TK : Misrayeti, A.Ma (TK Islam Raudlatul Jannah, Payakumbuh)
SD : Sri Rahayu, SPd (SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang)
SMP : Drs R. Marsudi Nugroho (SMPN 8 Kediri)
SMA : Saptono Nugrohadi (SMAN 3 Salatiga)

4. Perwakilan Guru Daerah Terpencil: Husaeni, A.Ma Pd. (SDN Jambu Baru I Barito Kuala) dan Zainab Hi Habib, A.Ma.Pd (SD Inpres Goeng, Halmahera Tengah)
Perwakilan Guru Luar Biasa Berdedikasi: Ansyari, SE (SLB AB Bukesra Banda Aceh)

5. Dosen Berprestasi: Adrian Bayu Sukmono, Ph.D (ITB Bandung)

6. Mahasiswa Berprestasi: Danang Ambar Prabowo (IPB Bogor)

7. Lomba Sekolah Sehat :
a. TK : TK Islam Fathia, Cibeureum, Sukabumi
b. SD : SDN N Tanjung Sekar 1, Lowok Waru, Malang
c. SMP: SMPN 103, Jakarta Timur
d. SMA: MAN 3, Malang

9. Lomba Website: SMKN 2 Jogjakarta

10. Lomba Penelitian Ilmiah Remaja SMP
a. Bidang IPA: Imdad Mahafta Virya, Hestitytriani Anisa, Nadya Fardani (SMPN 5 Jogjakarta)
b. Bidang IPS : Ratna Gumilang; Valina Khairin (SMPN I Gresik)
c. Bidang Teknologi: Nur Amin; M.Nirwan (SMPN Muhamadiyah 3 Jogjakarta)

11. Lomba Penelitian Ilmiah Remaja SMA
Vina Vania Suhartawan (SMPN 2 Jayapura, Papua)

12. Lomba Karya Jurnalistik 2007:
a. Artikel : Surjanto Budiwalujo (Guru SMK YP-1 Madiun)
b. Berita : Willy Masaharu dari Harian Suara Pembaruan
c. Feature : Adhitya Ramadhan
d. Tajuk Rencana: Harian Kedaulatan Rakyat
e. Karikatur : Dwi Argo Susanto

Kategori: Pendidikan

Pendidikan di China

Agustus 22, 2007 · 3 Komentar

GURU BERKUALITAS NEGERI PANDA

Sistem pendidikan China lebih terbuka. Guru diklasifikasi berdasarkan kualitas. Siswa bebas mengevaluasi kualitas guru secara objektif. Guru dapat tambahan tunjangan kesejahteraan 10 persen dari gaji pokok.

Ungkapan “carilah ilmu hingga ke negeri China” memiliki makna tersendiri bagi Drs Zaenal Mutaqin, MSi. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini benar-benar terbang ke Beijing, China, 9-21 Juli lalu.

Keberangkatan Zaenal ke “negeri Tirai Bambu” itu juga dalam rangka menimba ilmu pendidikan. Ia bersama rombongan dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) dan beberapa pejabat dari dinas pendidikan kabupaten/kota, mengikuti workshop peningkatan kompetensi guru,

“Rasanya seperti mimpi berangkat ke Beijing,” katanya. Sesama kepala dinas pendidikan yang dikirim ke Beijing adalah kepala dinas pendidikan Lombok Barat, Gorontalo, Tanah Datar, dan Merauke. Workshop pendidikan itu juga diikuti negara lain, yakni Kamboja, Laos, Mongolia, Papua Nugini, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

China yang punya luas daratan 9,6 juta km2 ini memang pendidikannya lebih maju dibandingkan Indonesia. “Mereka lebih fokus dalam menangani pendidikan. Saya kira kita harus punya komitmen dan bisa konsisten agar bisa memajukan pendidikan di Indonesia,” ujar Zaenal Mutaqin.

UU Sisdiknas-nya China mewajibkan anak umur 6 tahun mengikuti pendidikan dasar, tanpa dipungut biaya sekolah. SD di sana berlangsung 6 tahun. Mata pelajaran utamanya, antara lain, bahasa dan kesusastraan China, matematika, ilmu pasti, bahasa asing, pendidikan moral, musik, olahraga dan jasmani.

Jumlah SD di negeri Panda ini mencapai 400.000 dengan murid hingga 120 juta anak. APK SD di sana mencapai 98%. Sedangkan jumlah SMP dan SMA kurang lebih 60.000 dan 30.000, plus 3.000 perguruan tinggi.

Satu hal yang menarik bagi Zaenal berkaitan dengan tenaga pendidik adalah relasi guru dan murid yang berjalan demokratis. “Ciri khas pendidikan di Beijing adalah adanya klasifikasi guru, mulai dari guru paripurna sampai guru yang tidak qualified. Siswa juga bebas mengevaluasi guru secara objektif. Dua hal yang masih tabu di negara kita,” ujar Zaenal salut.

Guru juga mendapat tempat istimewa di Beijing. Gaji guru di sana berkisar 3.000–5.000 yuan per bulan. Dalam kurs 1 yuan= Rp 1.200, guru di China menerima rata-rata senilai Rp 3,6 juta–Rp 6 juta/bulan. Selain gaji pokok, guru juga menerima tunjangan kesejahteraan sebesar 10% dari gaji pokok. Sistem penggajian buat guru ini lebih tinggi 10% daripada pegawai biasa.

Penghasilan itu sudah memadai. Sehingga, hampir tidak pernah terdengar guru harus “ngojek” atau kepala sekolah mencari uang tambahan dari jual-beli seragam dan buku. Ketika pensiun pun, setiap guru berhak mendapatkan 100% gaji pokok per bulannya.

Zaenal menilai, pemerintah RRC menyadari pentingnya peran guru untuk memajukan bangsanya. Tak heran bila kemajuan RRC kini menjadi buah bibir di dunia. “Kemajuan China tentu tak bisa dilepaskan dari peran guru di sana,” katanya.

Kunjungan ke Beijing menjadikan Zaenal bertekad memajukan kualitas guru di Sukabumi. Langkah awalnya adalah mendongkrak tingkat kesejahteraannya. “China memulai memberi insentif kepada guru lebihdulu dari Indonesia, sedangkan kita baru mulai. Saya akan melaksanakan pemerataan guru di Sukabumi lewat pemberian insentif bagi guru yang ditempatkan di daerah terpencil,” kata Zaenal.

EVA ROHILAH (Sukabumi)

Kategori: Pendidikan

Pendidikan di Selandia Baru

Agustus 22, 2007 · 1 Komentar

college-di-new-zaeland-1.jpgcollege-di-new-zaeland-1.jpgMajalah Forum Tenaga Pendidik
Edisi Agustus 2007

MENIMBA ILMU DI NEGERI KIWI

Kali pertama Indonesia mengikuti pertemuan kepala sekolah tingkat dunia di Auckland, Selandia Baru. Wawasan dan kepemimpinan sangat ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Perlu lebih sering ikut forum internasional.

“Betapa kita sangat jauh ketinggalan di banding negara-negara seperti Uganda, Srilanka, dan beberapa negara lainnya di Afrika Selatan,” kata Drs Asyikin, Kepala SMA Negeri 70 Jakarta, mengomentari keikutsertaannya pada International Confederation of Principals (ICP) di Auckland, Selandia Baru, pada 2-5 April 2007 lalu.

Asyikin merasa beruntung menjadi satu di antara 20 kepala rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang mengikuti Konfederasi Internasional Kepala Sekolah itu. “Pertemuan kepala sekolah yang menyerupai konvensi tingkat dunia memiliki manfaat luar biasa bagi kami, terutama untuk mengukur kemampuan dan kualitas SDM,” ujar pria kelahiran Kuningan, 14 April 1951 ini kepada Forum Tendik, saat ditemui di kantornya, awal Agustus lalu.

Konferensi kali ini diikuti 1700 orang kepala sekolah dari 30 negara. Konferensi diisi berbagai pembicara utama berkelas internasional dari negara-negara maju dan berkembang. Agenda yang dibahas di antaranya standar SBI, manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia.

Ajang bergengsi itu menjadai wahana berbagi pengalaman dan wawasan kepala sekolah dari lima benua membagi pengalaman satu sama lain. ”Pertemuan ini sangat bermanfaat dalam rangka persiapan menuju sekolah bertaraf internasional,” ucap Jasman Luasin, Kepala SMA Negeri 2 Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Direktorat Tenaga Pendidikan Ditjen PMPTK sendiri berharap kehadiran para kepala sekolah di forum internasional itu bisa menjadi media pengembangan wacana kepemimpinan kepala sekolah pada tataran internasional. Juga untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian terkini terkait dengan usaha peningkatan mutu pendidikan.

Selain itu, Direktorat Tendik berharap ICP bisa untuk mengukur tingkat kesiapan kepala sekolah Indonesia, menghadapi persaingan global di bidang pendidikan, serta bisa membandingkan dan mengetahui posisi antara strategi pembangunan sekolah-sekolah di negara maju dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

KOMUNIKASI DAN KURANG GAUL

Hal yang menyolok dalam pertemuan itu adalah: delegasi Indonesia yang kurang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Padahal, setiap dialog, pemaparan, rapat pleno dan konvensi, semuanya menggunakan bahasa Inggris. Minimnya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris ini membuat delegasi Indonesia tidak banyak bicara.

”Kita juga jarang mengikuti forum-forum internasional seperti itu. Akhirnya jadi kurang gaul. Saya yang kebetulan sering mendapat kesempatan ke luar negeri, merasa terpukul,” ujar Asyikin.

Selain kelemahan soal komunikasi dan kurang pengalaman internasional, Asyikin menilai secara makro kondisi pendidikan Indonesia tidak jauh tertinggal dibanding negara-negara yang hadir. Misalnya soal kurikulum menyongsong abad 21. ”Dalam beberapa hal kurikulum negara-negara lain hampir sama dengan di sini. Kita punya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memberikan kebebasan secara konsep, filosofis dan teori,” kata Asyikin.

Bedanya, sejumlah negara mengembangkan kurikulum secara bottom-up. Sebelum kurikulum disahkan, sudah terlebih dahulu dipaparkan kepada murid, orangtua, masyarakat dan dunia usaha. Sehingga suara dari mereka bisa diserap. Setelah konsep kurikulum jadi, pemerintah mengadakan polling untuk menanyakan apakah kurikulum sudah sesuai dengan kebutuhan. “Polling menjaring kembali suara para ahli. Baru kemudian menjadi sebuah kurikulum,” ungkap Asyikin.

Selain kurikulum, pembekalan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan komputer dalam belajar, paradigma belajar-mengajar, organisasi pembelajar (learning organization) dan kemitraan antar sekolah (sister school) adalah empat poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut. “Saya sampaikan apa yang diperoleh di Selandia Baru ini pada Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS),” kata Asyikin yang juga Ketua MKKS Jakarta Selatan.

Asyikin berharap di kesempatan mendatang, setiap provinsi bisa mendapat giliran mengikutsertakan wakilnya di ICP. Mengingat biaya yang tinggi, kepala sekolah terpilih bisa meminta bantuan kepada pemerintah provinsi. ”Saya juga berharap Direktorat Tenaga Kependidikan mendorong dinas pendidikan dan kepala sekolah terbaik mendaftar jadi anggota ICP,” katanya.

Pasalnya, dengan menjadi anggota ICP, mereka mendapat semua informasi perkembangan pendidikan di dunia. Beda halnya bila datang hanya sebagai peninjau. ”Informasi terbaru memang khusus untuk anggota,” katanya.

EVA ROHILAH

BOKS 1

SEJUTA PERAK JADI ANGGOTA

International Confederation of Principals (ICP) adalah organisasi independen yang menghimpun 40 negara dari lima benua. Saat ini ada 135.000 anggota kepala sekolah dari seluruh dunia yang menjadi anggota tetap. Konvensi ICP diadakan dua tahun sekali.

ICP diadakan kali pertama di Jenewa, Swiss pada 1993. Berturut-turut kemudian diadakan di Sidney, Australia (1995), Boston, Amerika Serikat (1997), Helsinki Finlandia (1999), Gyeong-ju, Korea (2001), Edinburgh, Skotlandia (2003), dan Cape Town, Afrika Selatan (2005). Pertemuan ke-9 ditetapkan diselenggarakan di Singapura, pada 2009 mendatang.

Untuk menjadi anggota ICP sangat mudah. Setiap anggota hanya dipungut iuran 60 poundsterling per tahun atau hanya sekira satu juta perak. Tidak mahal untuk ukuran keanggotaan organisasi bergengsi tingkat dunia. ICP beralamat di 68 Martin St, Heidelberg, Victoria 3084, Australia. Presiden ICP dijabat Kate Griffin dari Inggris. Bagi yang tertarik, silakan klik di www.icponline.org.

EVA ROHILAH

BOKS2:

BEBAS BERHENTI DAPAT DIPLOMA

SELANDIA Baru adalah negeri di selatan Australia yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik. Negeri seluas 268.000 kilometer persegi ini kurang lebih sama luasnya dengan wilayah Inggris dan Jepang. Atau hampir dua kali luas Pulau Jawa.

Dalam bahasa Maori, Selandia Baru disebut Aotearoa yang berarti ”tanah awan putih yang panjang”. ”Negeri Kiwi” ini masih memiliki hamparan tanah pertanian yang luas, padang pasir vulkanik, pegunungan yang tertutup salju, sertai pantai dengan air laut membiru. Terasa lapang untuk warga Selandia Baru yang cuma 4 juta jiwa.

Sistem pendidikan di sana boleh dibilang unik. Wajib belajar hanya sampai jenjang SMP. Ketika memasuki jenjang pendidikan SMA, warganya dibebaskan untuk “berhenti setiap saat”. Sehingga di sana, wajar terjadi siswa baru kelas I SMA, tiba-tiba berhenti sekolah dan mengalihkan kursus. Ada juga yang begitu kelas II SMA, keluar dan langsung mengikuti program diploma, tidak masalah.

Mereka yang “meloncat-meloncat” ini biasa disebut traders. Dengan kursus singkat seseorang dinyatakan memiliki kemampuan tertentu. Mereka bisa bekerja berdasar keterampilan atau keilmuan tertentu.

Lembaga pendidikan bagi anak-anak balita banyak berkembang dengan ciri khas budaya dan kebutuhan yang beragam. Kebanyakan anak mengikuti pendidikan dasar (primary school) pada usia 5 tahun dan pindah ke sekolah lanjutan pertama (intermediate school) pada usia 11 tahun. Sekolah menengah (secondary school) diikuti anak usia 13 tahun-17 tahun. Hampir semua sekolah menengah adalah sekolah negeri. Namun ada sejumlah sekolah memiliki corak filosofi atau keagamaan.

EVA ROHILAH

Kategori: Pendidikan

IKHLAS MENJAGA FITRAH ANAK

Juli 25, 2007 · 2 Komentar

IKHLAS MENJAGA FITRAH ANAK
Pena Pendidikan Edisi Khusus Anak

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Peran orangtua sangat berpengaruh dalam mengubah anak menjadi berwarna merah, hitam dan kelabu. Agama memiliki tuntunan yang kaya tentang pendidikan anak usia dini sesuai ajaran kitab suci.

BANYAK istilah sering digunakan dalam menggambarkan kasih sayang orangtua terhadap anak. “Anak permata Bunda, belahan jiwa, si jantung hati, dan buah hati mama”. Sebutan itu mencerminkan betapa anak adalah segalanya. Sebagai buah hati ia mampu menjadi daya pengikat yang kokoh dan perekat yang kuat dalam jalinan kasih sayang dan hubungan harmonis rumah tangga.

Mendidik anak sejak dini menjadi suatu kewajiban orangtua sejak dari kandungan hingga beranjak dewasa. Islam, misalnya, mengajarkan pentingnya pendidikan anak sejak ia berada dalam kandungan ibunya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat. Karena itu terimalah nazar itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha Mengetahui.”(Quran Surat Ali Imran: 3 8)

Ayat di atas menegaskan bahwa sejak bayi dalam kandungan, seorang ibu senantiasa mendidik bayinya dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Kandungan ayat itu klop dengan riset ilmiah ilmu kedokteran, yang menyatakan sejak kandungan berusia 7 minggu, embrio yang ada dalam rahim untuk pertamakalinya saraf dan otot bekerja. Bersamaan dengan itu, embrio mempunyai reflek dan bergerak spontan. Akhir minggu ke-7 ini otak bayi akan terbentuk lengkap.

Saat pembentukan otak dalam kandungan, seorang ibu selain harus mengonsumsi makanan yang mengandung gizi dan asupan vitamin yang bagus, disarankan juga sang Bapak membaca ayat Al Quran dengan cara diperdengarkan langsung ke perut istrinya yang sedang hamil. Dengan cara ini anak akan merasakan kedamaian dan perhatian terutama nilai-nilai agama dari orangtuanya.

KEWAJIBAN ORANGTUA

Setelah mengalami masa usia sembilan bulan dalam kandungan, bayi akan lahir ke dunia dengan segala anugerah yang diberikan Allah SWT. Ibarat kertas polos yang kosong, setiap bayi yang dilahirkan adalah fitrah atau suci. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi,” (Hadits Riwayat Bukhari).

Hadits ini adalah dalil yang kuat tentang pentingnya orang tua memberikan pendidikan bagi anak. Kelahiran bayi merupakan anugerah Allah SWT, oleh karena itu kelahiran bayi yang dinanti-nantikan baik laki-laki maupun perempuan harus disambut dengan penuh syukur.

Setelah bayi lahir, orangtua harus mengazaninya agar si anak kelak selalu mendengar perintah-Nya dan mendengar hal-hal baik dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, ada empat hal yang diwajibkan orang tua kepada anaknya saat 7 hari usia bayi. Yaitu memberi nama yang baik, melakukan aqiqah, mencukur rambut dan memberi sedekah pada orang miskin paling kurang perak seberat rambut itu.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang cukup, makanan bergizi dan imunisasi juga sangat penting dalam menjaga pertumbuhan anak agar menjadi generasi yang sehat baik jasmani maupun rohani. Pada saat usia dua tahun anak menunjukkan emosi yang labil dan sukar mengendalikan diri. Ia mudah mengenal identitas dan merasa dirinya penting dan ingin terlihat menonjol. Ia menghendaki apa-apa yang diinginkannya segera dituruti dan mengharapkan perhatian lebih.

Pada masa usia 3-5 tahun sebaiknya orangtua memberi keteladanan pada anak dan menyarankan anak untuk memiliki lingkungan baru seperti kelompok bermain, Taman Asuh dan sejenisnya. Lingkungan baru ini agak berbeda dengan lingkungan rumah yang selama ini anak jalani.

”Al Quran menyebutkan cita-cita Nabi dan Rasul untuk memperoleh anak yang saleh sebagai pewaris dan penerus usahanya. Al Quran juga menyebutkan tanggung jawab ibu dan bapak untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya sejak dini dengan baik, supaya kelak di kemudian hari jangan menjadi anak yang sengsara dan lemah baik fisik maupun jiwanya,” ujar Dr. K.H. Sahal Mahfudh, Ketua Majelis Ulama Indonesia dalam sambutan buku berjudul Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Pandangan Islam.

Apa yang disampaikan Dr. K.H. Sahal Mahfudh semakin mempertegas pentingnya pendidikan anak usia dini untuk bergabung dengan kelompok bermain dan melalui fase sosialisasi. Yakni fase di mana anak-anak mulai kenal teman, guru dan lain-lain di luar hubungannya sebagai anggota keluarga. Ia mulai kenal berbagai peraturan yang harus ditaati. Pada masa ini sifat keakuan mulai berkurang perasaan emosional lebih kecil dibanding dengan sebelumnya.

Pada masa ini juga daya intelektualitas mulai berkembang. Daya fantasi, sifat ingin tahu, dan sifat meniru menjadi lebih menonjol. Dalam hubungan ini yang perlu diupayakan adalah: Pertama memberikan Kebebasan yang terbatas dalam arti memberikan tuntunan, bimbingan, nasihat dan pengendalian.

Selanjutnya yang kedua adalah mengadakan komunikasi timbal balik, Ketiga, melatih mereka bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan, Keempat, mengadakan kegiatan bersama seperti shalat berjamaah. Kelima jangan terlalu memanjakan dan mengekangnya dengan memberikan materi yang berlebihan. Keenam memberikan perhatian, pendidikan kedisiplinan dan akhlakul karimah, serta pendidikan bagaimana menjadi mandiri.

Itulah beberapa usaha yang harus dilakukan orangtua dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Diharapkan jika hal ini dilakukan dengan ikhlas akan memberi kebahagiaan dan kesejahteraan bagi anak. Anak yang sejahtera adalah penerus kesejahteraan orangtuanya dan merupakan kekayaan bangsanya. Anak idaman adalaha nak yang qurrata a’yun alias penyenang hati dan penyejuk mata.

PENDEKATAN IMAN DAN KASIH

Dalam ajaran Kristiani, perhatian terhadap pendidikan anak usia dini juga besar. Sebagaimana tersebut dalam Efesus 6:4 yang menyatakan: ”…Kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Pendidikan iman oleh orangtua diberikan pada anak dengan membiasakan mereka menghayati nilai-nilai iman kristiani di lingkungan keluarga lewat suasana yang indah dan menggembirakan, iklim persaudaraan dan cinta kasih. Selain itu orang tuabertanggung jawab mengajar anak-anak berdoa dan menuntun mereka sebagai citra Allah melalui kesaksian hidup sesuai dengan Injil.

Kesadaran dalam penanaman dan pemeliharaan iman menjadi pokok perhatian dalam pelayanan pastoral gereja. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa pembinaan iman anak merupakan tugas utama gereja, selain orangtua dan masyrakat (Lumen Gentium 11). Dewasa ini setiap paroki di Indonesia telah menyelenggarakan Pendidikan Bina Iman Anak (BIA)

Tugas dan tanggungjawab pendidikan anak usia dini dalam iman Katholik diselenggarakan oleh keluarga, penanggung jawab (bidang pewartaan dan pendalaman iman di tingkat keuskupan dan paroki, dan pendamping Bina Iman Anak dengan tujuan membantu keluarga Katholik agar sadar akan pentingya pendidikan iman anak sejak usia dini dan mampu memberikan iman kepada anak-anaknya sesuai ajaran Yesus Kristus.

Beberapa hal yang dilakukan gereja adalah
- Merencanakan kaderisasi tim pendamping melalui pelatihan secara berkala dan berjenjang.
- Menyiapkan materi pelatihan bagi para pendamping iman anak
- Menyusun materi Bina Iman Anak (BIA) dan metode pendampingan yang cocok dengan kebutuhan, minat minat dan daya serap anak.
- Menyusun alat peraga atau alat permainan edukatif (APE) secara kreatif. Dan disesuaikan dengan keadaan setempat.
- Bekerjasama dengan dewan paroki, pengurus stasi, orangtua, guru PAUD dan lembaga-lembaga yang peduli akan PAUD dalam mendidik anak secara kristiani.

EVA ROHILAH

Kategori: Pendidikan