Torehan Kisah dan Perjalanan

Entries categorized as ‘Resensi’

Bisikan Kiamat

April 15, 2009 · & Komentar

knowing21

Semalam aku nonton Film ini ditraktir ama Rini karena ia keterima beasiswa Chevening ke Inggris. Seru juga liat film ini, akting Nicolas Cage bagus dan keren banget deh pokoknya. Berikut aku tulis resensinya.

Resensi Film KNOWING

BAGAIMANA rasanya bila Anda bisa melihat apa yang tak terekam di mata orang lain, mendengar yang tidak didengar orang lain dan merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain? Anda merasa sesuatu akan terjadi, tapi Anda tidak tahu itu apa. Apakah itu sixth sense atau halusinasi belaka?

Gadis sekolah dasar di Massachusetts, pada tahun 1959, bernama Lucinda Embry, buta tentang masa depan. Namun dialah kunci prediksi kehancuran bumi alias kiamat. Lucinda dikenal sebagai murid yang misterius, tampangnya menyedihkan, muram dan tak banyak bicara. Sosok terasing di kelas. Namun, dia punya rahasia yang membuat seluruh hidupnya penuh tanda tanya.

Suatu hari, sekolah Lucinda mengadakan acara mengubur sebuah kapsul waktu. Kapsul yang akan dibuka kembali 50 tahun kemudian itu penuh dengan amplop. Dalam amplop-amplop itu berisi gambar anak-anak era 50-an tentang masa depan. Anehnya, bukan gambar yang dicoretkan Lucinda dalam kertas, melainkan angka acak.

Dia menuliskan angka-angka dengan sangat cepat, sampai-sampai gurunya, Ms Taylor, merampas kertas itu. Jangan salah! Bukannya Lucinda maniak angka, dia hanya menulis menuruti bisikan-bisikan di telinganya yang tak terdengar orang lain. Saat penguburan kapsul waktu, Lucinda tiba-tiba lenyap. Dia menghilang. Semua orang mencarinya. Petugas sekolah pun dikerahkan. Ms Taylor akhirnya menemukan Lucinda. Gadis kecil itu berada di lemari dalam kondisi mengenaskan, jemarinya berlumuran darah.

Tahun 2009, saatnya kapsul waktu diangkat dari kubur. Semua murid saling berebut amplop. Caleb, salah satu murid, mendapat amplop milik Lucinda. Awalnya, ayah Caleb, John Koestler (Nicolas Cage) menilai amplop itu hanya keisengan anak-anak masa lalu. Namun, Caleb coba meyakinkan, amplop itu mungkin saja berguna.

Penasaran, John yang berprofesi sebagai seorang profesor itu kemudian menelaah setiap digit acak yang tertera dalam kertas tua tersebut. Mengandalkan googling, John sadar angka-angka itu bukan angka biasa. Angka-angka itu tepat merujuk pada sejumlah tragedi yang memakan korban luar biasa, termasuk peristiwa naas yang merenggut istrinya, ibunda Caleb, hingga membuat John tidak percaya Tuhan.

Setelah hari itu, kehidupan ayah-anak tersebut berubah. Tinggal tiga musibah yang belum terjadi pada 2009. Bagaimana John mengatasi keadaan ini? Sementara Caleb yang tuna rungu sejak lahir harus mendengar bisikan-bisikan, sebagaimana yang didengar Lucinda. John khawatir sekaligus ketakutan, Caleb bakal jadi korban angka berikutnya. Tapi dia tidak mungkin melepaskan diri dari takdir ini. Setelah berjuang sekuat tenaga, menelusuri musibah serta menyusuri kembali jejak Lucinda Embry, John mendapatkan jawaban.

Knowing adalah sebuah novel karya Ryne Douglas Pearson, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk film di bawah arahan sutradara Alex Proyas. Film yang dirilis kali pertama pada 20 Maret 2009, ini akrab dengan nuansa thriller yang cukup suram. Boleh dibilang, hampir semua penokohan dalam cerita menguras emosi dan kegelisahan.

Inti dari pesan yang ingin disampaikan penulis agaknya tidak jauh beda dari film The Eye. Namun, film yang dibintangi Nicolas Cage ini unggul di tingkat kedalaman kisah. Betapa tidak, Pearson berani mengangkat sisi spiritualitas yang selama ini identik dengan dunia Timur. Dia menggabungkannya dengan derajat ilmiah, teknologi, dan pola pikir realistis ala dunia Barat. Tapi, Knowing bukanlah film hantu.

Pearson sukses menyelundupkan ide sekaligus mendekonstruksi kebenaran tentang sejarah penciptaan alam semesta. Estetika berpikir penulis seakan membongkar paksa pemahaman individu terhadap realita dan kebenaran sejarah peradaban. Bahwa semua yang terjadi di dunia sudah tertulis, tercatat rapi: yang lahir, yang mati, yang datang dan yang pergi.

Dan hanya ‘yang terpilih’-lah yang akan menciptakan generasi baru setelah memakan buah Khuldi. Anda boleh percaya, boleh pula tidak. Karena ini cuma film, hanya cerita: rekonstruksi dari konstruksi atas realitas, yang bisa jadi Anda yakini, bisa pula tidak.

Kata Rini sih film ini gantung di endingnya karena tidak bisa dijelaskan secara ilmiah hehehe….

Kategori: Resensi

Menebar Kepedulian dan Kesalehan Sosial

September 26, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Resensi Buku Dimuat di Infosocieta edisi Lebaran Oktober 2007 

Judul        : Buku Pintar Fiqh dan Amaliyah Zakat

Penulis    : Muhammad Ridwan Yahya

Penerbit  : Pustaka Nawaitu, Jakarta

Edisi       : II,  Maret 2007

Tebal      : 200 Halaman 

ISBN       : 979-3736-28-9  

MENEBAR KEPEDULIAN DAN KESALEHAN SOSIAL

Bicara zakat, rukun ketiga Islam ini akan terus bergandeng dengan kemiskinan. Zakat menjadi pemenggal kesenjangan mengurai kecemburuan. Zakat juga penyelamat bagi pembayarnya, juga penerimanya. Zakat dicatat mampu menjadi solusi menghentikan monster bernama kemiskinan. Buku kecil ini hadir mengupas masalah zakat dengan bahasa yang ringan namun dikaji cukup mendalam. 

Pada setiap bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan menunaikan ibadah puasa. Selama sebulan penuh, seorang muslim wajib menahan lapar dan haus dari mulai terbit fajar sampai dengan menjelang senja. Selama berpuasa, banyak sekali amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan, contohnya: shalat tarawih, zikir, tadarus Al Quran, dan bersedekah. Ketika puasa selesai dijalankan, maka kaum muslimin merayakan Idul Fitri. Setelah sebulan penuh berpuasa, kaum muslimin di seluruh dunia merayakan kemenangan. Satu kewajiban yang dilakukan sebelum hari Lebaran tiba adalah kewajiban membayar zakat fitrah. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap muslim yang sedikit berlebih memiliki bahan makanan pokok pada bulan Ramadhan. Jumlah yang wajib dibayarkan oleh setiap muslim adalah satu sha’ (kurang lebih 2,5 kg) beras, gandum, kurma atau yang lainnya. Sasaran zakat fitrah adalah kaum dhuafa yang tidak memiliki makanan pada hari Idul Fitri. Namun zakat fitrah dapat juga dibayarkan dengan uang tunai.  

Namanya buku pintar, tak hanya zakat fitrah saja yang dibahas penulis kelahiran Takalar, Makassar, Sulawesi Selatan, 9 September 1968 ini. Ia membahas panjang lebar jenis-jenis zakat yang lain. Yakni zakat penghasilan, zakat profesi lengkap dengan cara penghitungannya dan dasar Al Quran serta hadits yang mendasari kenapa zakat harus dibayarkan.  Buku yang terdiri dari 25 bagian ini sangat cocok bagi Anda yang ingin mengetahui seluk beluk tentang zakat. Bagi pemula, pada bab awal buku ini dijelaskan definisi, urgensi, kedudukan, syarat, hikmah dan filosofi zakat. 

Hikmah pertama yang dipetik dari zakat adalah menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT.  Kedua, memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya. Ketiga, menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.  Hikmah keempat adalah dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: ummatan wahidan (umat yang satu), musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) dan takaful ijti’ma (tanggung jawab bersama).  Hikmah kelima, dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.  

MANAJEMEN ZAKAT  

Selain itu, zakat adalah ibadah  yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas kepedulian dan kesalehan  sosial. Sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.  Dengan adanya zakat, kita berusaha mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tenteram, aman lahir batin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali.

Pada bab 14, Muhammad Ridwan Yahya menjelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima dan tidak menerima zakat, jenis harta yang wajib dizakati, serta distribusi zakat. Meskipun hanya diulas sekilas, bab ini menjadi sangat penting mengingat ada kaitannya dengan pendistribusian dan pengelolaan manajemen zakat.  Ada tujuh golongan orang yang berhak menerima zakat yaitu fakir miskin, muallaf (baru masuk Islam), amil zakat, hamba yang ingin memerdekakan dirinya. Orang-orang yang berhutang, orang-orang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah) dan ibnu sabil (anak-anak yatim yang sedang sekolah).  Pada zaman dulu, pengelolaan zakat di Indonesia dilakukan secara kekeluargaan. Pengelolaan zakat dengan sistem manajemen yang terarah dan terencana masih jauh panggang dari api. Padahal saat itu, potensi zakat yang dikeluarkan setiap tahunnya sangat besar. Baru, pada 1968, pengelolaan zakat dikelola secara formal dengan didirikannya Badan Amil Zakat (BAZ) yang kemudian diganti menjadi BAZIS (Badan Amil Zakat Infaq Sodaqoh).

Setelah adanya BAZIS ini, dinamika pengelolaan zakat semakin berkembang. Bahkan pada era 1990-an peran swasta mulai melirik manajemen pengelolaan zakat sebagai salah satu aset untuk memberdayakan umat. Hadirnya Dompet Dhuafa Republika, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), dan Rumah Zakat menjadikan orang berzakat lebih mudah.  Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat ditambah dengan teknologi yang kian canggih pengelolaan zakat pun kian efektif. Selain menjamurnya lembaga zakat dari tingkat kelurahan hingga tingkat nasional. Kini, banyak para amil zakat yang menjemput zakatnya kepada muzakki (pemberi zakat), atau bahkan bisa juga berzakat lewat pesan Short Message Service (SMS). 

 Pada bagian akhir buku ini, penulis yang alumni Islamic University, Madinah, Arab Saudi ini memberikan beberapa tips praktis seputar zakat. Salah satunya adalah menjaga keikhlasan. Menurut lelaki yang cukup produktif menulis, lebih dari sembilan judul buku ini, kita harus selalu berupaya memperbaiki niat ketika mau bayar zakat. Jangan sampai kemasukan riya’ (pamer) yang bisa menghapus amal.  Selain itu, Ridwan juga menyarankan agar kita senantiasa mengeluarkan zakat setiap kali memperoleh harta, tanamkan cita-cita agar berupaya menjadi muzakki (pembayar zakat) dan bukan menjadi mustahiq (penerima zakat), serta bayarkanlah zakat anda kepada amil zakat yang kerjanya benar, jujur, dan bertanggung jawab dan.   

Sayang, minim sekali kisah-kisah atau contoh para muzakki yang inspiratif dalam buku ini. Selain itu, pengelolaan zakat berkaitan dengan pajak, dan pengelolaan ekonomi rakyat juga tidak dikaji tidak banyak disinggung.  Meskipun disertai catatan hampir dalam setiap babnya, buku ini tidak disertai indeks dan catatan kaki, padahal banyak istilah penting berbahasa Inggris maupun Arab yang mungkin orang awam belum paham.   

Salah satu kelebihan buku ini ditengah banyak dan maraknya buku tentang zakat adalah penyajiannya yang komprehensif, sistematis, praktis, dan tuntas dengan bahasan yang sederhana sehingga mudah dicerna. Buku ini sangat tepat dijadikan panduan zakat bagi lembaga atau perseorangan dalam kehidupan sehari-hari. Tidaklah keliru Anda membelinya, untuk keperluan sendiri atau dihadiahkan. 

 EVA ROHILAH        

Kategori: Resensi

Menguak Tabir Menyulut Kontroversi

Agustus 29, 2007 · 1 Komentar

sampul-buku-ipdn.jpgsampul-buku-ipdn.jpg
Judul Buku : IPDN UNDERCOVER (Sebuah Kesaksian Bernurani)
Penulis : Inu Kencana Syafiie
Penerbit : Progressio (Grup Syaamil), Bandung
Edisi : I, April 2007
Tebal : 282 Halaman
Harga : Rp 38.000
ISBN : 979-793-131-5

MENGUAK TABIR MENYULUT KONTROVERSI

TUMPUKAN buku dengan cover yang didominasi warna merah darah, berlatar foto seorang yang ditutup matanya, setengah membungkuk dengan kedua tangan saling mengatup bak pesakitan, itu cukup menarik perhatian pengunjung toko buku Gramedia, di bilangan Matraman, Jakarta, Mei lalu. Buku berjudul IPDN Undercover yang dipajang di bagian rak-rak buku bertuliskan ”Best Seller” itu memang dikerumuni sejumlah pengunjung.

Judulnya yang mirip-mirip buku Moammar Emka berjudul Jakarta Undercover itu agaknya turut menjadi daya tarik pembaca. Sebagaimana Jakarta Undercover yang memotret sisi remang-remang seks di Ibu Kota, pembaca juga membayangkan buku ini memerikan sisi gelap di balik ”tembok kekerasan” di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Rupanya, judul itu hanya siasat dagang belaka, entah dari penerbit atawa sang penulis buku, Inu Kencana Syafie. Dari 282 halaman buku ukuran A5 ini, hanya 74 halaman saja yang berisi kesaksian Inu Kencana atas sisi gelap keburukan-keburukan yang terjadi di IPDN. Artinya hanya seperempat bagian, lebih sedikit, yang sesuai dengan judul buku. Hanya Bagian G yang dijuduli Membongkar Kasus STPDN, yang klop dengan judul buku. Selebihnya, lebih mirip otobiografi sang penulis.

Judul yang melenceng dari isi itu diakui penerbit. ”Pemilihan judul IPDN Undercover tidak terlepas dari tujuan pemasaran. Secara teori mengambil salah satu bagian sebagai judul buku sah-sah saja,” kata Asep Syamsu Romli, Manajer Syaamil Pustaka, Bandung, seperti dikutip Harian Pikiran Rakyat.

Inu sendiri menyikapinya dengan enteng. ”Saya dan IPDN tidak terpisahkan. IPDN-lah awal kepopuleran saya. Setelah itu, tidak sedikit yang mempertanyakan latar belakang saya, termasuk dari mana saya mendapat keberanian. Buku ini merupakan jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan itu,” tutur Inu pada jumpa pers peluncuran buku ini, di Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung, akhir April lalu.

Popularitas Inu Kencana Syafiie memang tengah melejit, begitu mencuat kasus kekerasan yang berujung kematian Cliff Muntu, praja –sebutan mahasiswa di IPDN– asal Manado, April lalu. Inu dengan lantang dan tanpa tedeng aling bahkan membeberkan sejumlah kekerasan lainnya di sana. Tahun 2003 lalu, ketika praja Wahyu Hidayat meninggal, Inu juga mengungkap sejumlah kisah kekerasan di balik tembok IPDN.

Sejumlah kesaksiannya yang ditulis dalam buku ini menjadi perhatian serius kepolisian. Inu sempat diperiksa penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Daerah Jawa Barat di Bandung, pertengahan April lalu. Polisi mempertanyakan sejumlah data kekerasan di IPDN yang Inu tulis dan tersebar di sejumlah media. Di buku ini Inu menyatakan dari 35 praja IPDN yang meninggal, 18 di antaranya meninggal secara tidak wajar (halaman 9).

Dari Hati Nurani

Keberanian lelaki lulusan S-2 Fakultas Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini memang layak diacungi jempol. Namun, tak sedikit kalangan menuding Inu cuma cari-cari popularitas belaka. Meski dibantahnya, “Motivasi saya melakukan semua itu berangkat dari hati nurani. Hanya karena ridla Allah. Sangat jauh melampaui self actualization.”

Di bagian pengantar, Inu mengawali kisahnya di balik seremoni wisuda IPDN, Agustus 2006. Inu terkejut saat mengetahui para terpidana kasus pembunuhan Wahyu Hidayat masuk dalam daftar wisudawan. Inu memberanikan diri menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui juru bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng. “Saya minta izin untuk membeberkan fakta tentang calon wisudawan yang seharusnya ada di balik terali besi untuk mempertanggungjawabkan kasus pembunuhan,” kata Inu.

Melalui Andi, kata Inu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ijin Inu membeberkan fakta tentang para calon wisudawan yang seharusnya ada di balik jeruji sel penjara. Esoknya, ada media massa yang menulis artikel berjudul “Presiden Melantik Narapidana”. Buntutnya, Inu disidang dalam rapat senat yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma’ruf. Ia dicap telah menjelekkan almamater.

Fakta hukum membuktikan bahwa sepuluh praja memang telah divonis hingga tingkat Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Kasasi mereka ditolak Mahkamah Agung pada 2005. Herannya, meski vonis dijatuhkan mereka semua tak masuk bui. Eksekusi terpidana baru dijalankan Kejaksaan Negeri Sumedang beberapa hari setelah media massa memberitakan fakta yang dibeberkan Inu. Departemen Dalam Negeri juga memutuskan mencabut status pegawai negeri sipil (PNS) para terpidana.

Meski tindakan Inu benar, tetap muncul suara sumbang yang membela para calon wisudawan. Inu dinilai tidak kasihan kepada orangtua para terpidana dan praja yang siap diwisuda. Inu teguh. “Kenapa harus melindungi narapidana?” ujarnya tegas.

Di bagian pengantar ini Inu menyambungnya dengan cerita di balik terbunuhnya Cliff Muntu pada 2 April 2007. Di bab pertama, Inu mengawali dengan kisah masa kanak-kanak. Lazimnya tulisan biografi, Inu mengisahkan masa kanaknya itu dengan detil. Perjalanan hidup ibunda Zaidar dan ayahanda Abdullah Syafiie bahkan ditulis komplet. Inu mengakui sebagai pria yang memuliakan ibu. ”Saya membenci cerita Sangkuriang dan Oidhipus Complex,” tulis Inu di bagian ini.

Berturut-turut setelah itu Inu menulis bagian yang dijuduli Masa Remaja, Pernikahan yang Menggemparkan, Kelahiran Anak-anak, Perkuliahan Tanpa Akhir, dan Orang Miskin Naik Haji. Jelas bagian-bagian ini sangat tidak klop dengan judul buku.

Dosen Bintang Porno

Cerita-cerita yang layak disebut IPDN Undercover sendiri murni hanya satu bab berjudul Membongkar Kasus STPDN. Inu memaparkan banyak kasus yang terjadi di sana. Mulai penganiayaan, narkoba, dan yang paling seru… soal hubungan seks bebas di kampus pencetak abdi rakyat itu.

Seks bebas menurut pengamatan Inu bukan saja melibatkan antarpraja, praja dan warga di sekitar kampus, bahkan antara praja dan dosen IPDN sendiri. ”Ada warga yang melaporkan istrinya berselingkuh dengan penghuni STPDN. Bahkan ada praja yang membawa kabur istri orang lain ketika melakukan bakti karya praja di Pandeglang,” tutur Inu.

Tak sampai di situ saja, pesta seks dilakukan di asrama dengan mengundang wanita tuna susila (WTS). Yang membikin mata terbelalak, menurut Inu, ada seorang dosen perempuan yang menjadi bintang VCD porno. VCD porno itu sempat beredar di kampus. Ironisnya, sambung Inu, dosen pemeran VCD porno itu memiliki kedudukan penting kala itu, yaitu anggota komisi disiplin.

Di luar kampus, kasus perzinahan antarpraja juga terjadi di hotel, ketika praja menjalankan kegiatan semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tindakan tak bermoral ini sempat memakan korban jiwa. Pada 2000, praja bernama Utari Dewi Tunjung Sari meninggal dunia tak lama setelah proses aborsi. Yang menyedihkan, jasad Utari dibiarkan begitu saja tergeletak di sebuah masjid di kawasan Kota Cimahi.

Inu menyebut tidak ada lagi moral di IPDN. Hingga di titik nadir kesabarannya, Inu bahkan muntab dan mengucap sumpah: Hancurkan sekolah ini, ya, Allah dan ganti dengan yang lebih baik!
Apa yang diungkapkan Inu itu rasanya hanya hanya sebagian saja dari gunung es persoalan di IPDN. Paparan Inu yang ditulis dengan gaya bertutur langsung itu belum komplet. Agar lebih bernyawa, buku ini masih butuh wawancara dari banyak nara sumber, bukan sekadar versi Inu seorang. Banyak nama yang disebut Inu dengan menggunakan inisial yang sama sekali tak diimbangi wawancara nara sumber yang bersangkutan, atau setidaknya orang kedua.

Di luar kekurangan itu, buku dengan sajian bahasa yang lugas, dan sederhana ini memang gampang dicerna pembaca tanpa mengernyitkan dahi. Plus judul yang bikin pembaca penasaran, membuatnya ludes di toko buku. Tiras 10.000 eksemplar di cetakan pertama, habis kurang dari sebulan. Edisi cetak ulang buku ini pun layak mendapat label Best Seller.

Dalam rentang waktu tiga bulan sejak beredar di pasaran, buku ini sudah tiga kali dibahas dalam acara bedah buku. Yakni di Bandung, Jakarta, dan Depok. Sejumlah kalangan, terutama dosen yang disebut-sebut Inu meradang dan menggugat agar fakta kontroversial Inu bisa diungkap kebenarannya.

EVA ROHILAH

Kategori: Resensi

Cerita Akhir Harry Potter

Agustus 10, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dear all,
Penasaran dengan isi buku Harry Potter yang baru?Ini ada resensinya.
Selamat membaca

Harry Potter and the Deathly Hallows Plot Summary

Beginning of book

The book begins at the home of Lucius Malfoy, with Snape and a Ministry official, Yaxley, informing Lord Voldemort of the date Harry Potter intends to leave the Dursley’s house. Voldemort borrows Lucius wand, because his own is ineffective against Harry. Voldemort plans to kill Harry when he is moved to a new safe place, which has to happen when he turns seventeen and his safety with the Dursleys expires.
Harry, on the night he is to leave the Dursleys, reads an obituary of Albus Dumbledore, written by Dumbledore’s friend Elphias “Dogbreath” Doge. Harry learns about Dumbledore’s family including his brother Aberforth and sister Ariana, and he regrets not having asked Dumbledore more about his past.

Middle of book
After a month of spying on the Ministry of Magic, the trio attempt to infiltrate it to retrieve the Horcrux from Dolores Umbridge. They discover the Ministry of Magic has changed considerably; Muggle-born wizards and witches are being rounded up openly for questioning. The trio eventually locate Umbridge and take the Horcrux, knocking her out in the process. They free a number of Muggle-born wizards and witches, and encourage them to leave the country. However, the trio’s hiding place at 12 Grimmauld Place is discovered and they are forced to flee to the countryside, moving from place to place, never staying anywhere too long.
After several months of this, they overhear a conversation revealing that the Ministry only possesses a replica of Gryffindor’s sword; the original’s location is unknown. Harry questions the portrait of Phineas Black, and discovers that Dumbledore used the sword to destroy a Horcrux, the Gaunts’ ring. Harry suggests attempting to locate the real sword, but Ron objects, feeling that this is a pointless quest. After an argument with Harry, he leaves the group. Harry and Hermione are greatly saddened, but decide to go to Godric’s Hollow on the off-chance that Dumbledore left the sword there for them there.

The Deathly Hallows themselves
At Lovegood’s home, Harry, Ron, and Hermione are told an old wizard story about three brothers who bested Death, and each had received a magical item for it, the three Deathly Hallows – an unbeatable wand (called the Elder Wand), a stone which could bring back the dead (the Resurrection Stone), and an Invisibility Cloak that never failed with age. Harry believes that his own cloak is that Invisibility Cloak, and is very excited, but soon discovers that Lovegood has betrayed them to the Ministry; Luna, his daughter, has been taken captive and he believes that giving them Harry Potter would cause them to free her. The trio barely escape from the wizards sent to fetch them, but Harry is emboldened and believes that they need to collect all the Deathly Hallows, these artifacts given by Death, to defeat Voldemort.

End of book
At Hogsmeade, Harry and friends are cornered by Death Eaters and saved by Aberforth Dumbledore. Aberforth opens a secret passageway to Hogwarts, where Neville Longbottom greets them. Harry alerts the Heads of Houses at Hogwarts to Voldemort’s imminent arrival and evacuation measures are implemented to ensure the younger students’ safety, with the older ones able to stay and fight. After saving Draco Malfoy’s life, Harry finds Ravenclaw’s diadem in the Room of Requirement. Draco Malfoy and Crabbe and Goyle are also in there after the diadem.

Epilogue
In the story’s epilogue, taking place 19 years after the Battle of Hogwarts, Harry and Ginny Weasley are married and have three children named James, Albus Severus, and Lily. Ron and Hermione are also married and have two children named Rose and Hugo. Draco Malfoy has a wife (unnamed) and a child named Scorpius. Lupin and Tonks’ orphan son Teddy is apparently in love with Victoire, Bill and Fleur’s daughter. They all meet at King’s Cross, about to send their children to Hogwarts at the beginning of term. Neville Longbottom has become the Herbology Professor at Hogwarts. The Sorting Hat has survived, or has been repaired or replaced. It is revealed that Harry’s scar has not hurt since the Dark Lord’s defeat, and there the story ends.

Kategori: Resensi

Summerhill Yang Merdeka dan Cerdas

Juli 24, 2007 · 1 Komentar

SUMMERHILL YANG MERDEKA DAN CERDAS
Infosocieta, Depsos RI edisi hari Anak

Judul Buku : SUMMERHILL SCHOOL (Pendidikan alternatif yang Membebaskan)
Penulis : A.S. Neill
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Cetakan I, Juni 2007
Tebal : 356 Halaman
Harga : Rp 45.000
ISBN : 978-9791275-00-2

Carilah sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus cocok dengan sekolah. Summerhill menjadi sekolah bebas sejak 1921. Anak bebas menentukan pelajaran yang ia sukai. Bebas tumbuh dan berkembang.

“Pada dasarnya tidak ada anak yang jahat. Yang ada adalah para orangtua bermasalah, guru-guru bermasalah, dan sekolah-sekolah bermasalah yang semuanya melahirkan anak-anak bermasalah.” Itulah kesan Robert Gottlieb, Executive Vice-President di sebuah agen bakat yang besar dan kepala departemen sastra, mengomentari sosok Alexander Sutherland Neill.

Neill tak lain adalah pendiri sekolah Summerhill, tempat Robert Gottlieb menghabiskan sebagian masa sekolahnya pada 1960 hingga 1962. Ungkapan Gottlieb mengenai sekolahnya itu ditulis pada 1990, sebagai pengantar buku kecil karya Neill ini yang diterbitkan di Inggris pada 1992.

Sekolah Summerhill yang didirikan Neill di Leiston Suffolk, sekitar 160 km dari London, Inggris, pada 1921, memang bukan sekolah sebagaimana lazimnya sekolah. Loh? Melalui sekolahnya, Neill menggulirkan gagasan membebaskan murid-muridnya menentukan apa yang mereka mau. Ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama, Neill singkirkan.

“Kami dianggap berani dengan ide ini, padahal tak dibutuhkan keberanian apa pun,” ujar Neill. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makhluk yang baik dan bukan makhluk jahat. “Kami meyakini sepenuh hati,” tambah Neill.

Mengatasi Anak Bermasalah

Pemikiran-pemikiran Neill membangun Summerhill dibukukan dalam Summerhill School, A New View of Childhood yang disunting dengan bagus oleh Albert Lamb. Edisi perdana buku aslinya terjual lebih dari 4 juta eksemplar. Seperti apakah Summerhill itu?

Pertama, anak-anak bebas memilih pelajaran yang mereka ikuti. Bahkan bagi anak yang baru masuk ke sekolah ini mereka bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, sesuka mereka. Jadwal pelajaran tetap ada, tetapi hanya ditentukan untuk para guru. Fasilitas di sana komplit: kolam renang, bengkel kerja, laboratorium, ruang kesenian, teater, alat musik, perpustakaan bahkan sampai ladang.

Bagi Neill, pelajaran bukanlah sesuatu yang penting. Aktivitas belajar tidaklah sepenting kepribadian dan karakter. Jack, salah satu siswanya, tidak lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi karena dia membenci buku. Tetapi ketidaktahuannya tentang pelajaran tidak menghalangi hidupnya. Jack tumbuh menjadi seorang yang sangat percaya diri.

Di mata Neill, menjejalkan pelajaran pada anak sama saja memaksakan pekerjaan yang tidak menyenangkan buat anak. Neill tak menyangkal, banyak anak bermasalah di Summerhill. Mereka berkali-kali dikeluarkan dari sekolah sebelum masuk Summerhill. Banyak murid dengan pribadi penuh kebencian dan pemberontakan.

Neill sadar betul seorang anak tumbuh dengan egonya. Tapi ia yakin, ego yang dipelihara dengan baik, akan memiliki apa yang disebut kebaikan. Sebaliknya ego yang dikekang hanya menghasilkan kejahatan. Anak-anak yang dianggap jahat sejatinya ia sedang berusaha mencari kebahagiaan. Rumah dan sekolah seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap antisosial.

Ia sangat memahami, butuh waktu bagi anak untuk menjadi diri sendiri setelah begitu tertekan oleh sekolah konvensional. Panjang pendek masa penyembuhan ini tergantung pada seberapa besar kebencian yang ”ditanamkan” sekolah merasuk ke pikiran para murid.

Kebahagiaan yang tak mereka rasakan sejak kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagiaan palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, atau menghajar orang. Kejahatan dan hukuman tidak akan pernah mengatasi kejahatan dan kenakalan anak. Di Summerhill, siswa-siswanya boleh mangkir dari pelajaran-pelajaran jika ia tidak suka.

Manajemen Swakelola

Namun, Summmerhill bukan sembarang sekolah bebas. Dengan menentukan pelajaran yang murid sukai, justru mampu mengubah anak yang semula penakut menjadi pemberani dan teguh pendirian. Jika ada anak yang ketahuan mencuri, ia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan murid-murid sendiri.

Sekolah ini memang dikelola bersama oleh guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman, mereka sadar mencuri itu merugikan. “Mereka adalah para realis cilik. Mereka tidak akan mengatakan bahwa Tuhan akan menghukum pencuri,” ujar Neill. Sepekan sekali mereka menggelar rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.

Pada bagian kebebasan beragama, Neill mengungkapkan pengalaman pribadinya. Menurut Neill, para psikolog menyatakan bahwa pengalaman hidup masa kecil kita menentukan kehidupan kita selanjutnya. Neill sependapat dengan psikolog itu saat menyaksikan kematian Clunie, adiknya tersayang, pada usia tiga puluh empat tahun. Semasa hidupnya Clunie selalu bersikukuh dan tak mau berkompromi menyangkut Ateisme yang ia anut.

Di matanya agama adalah takhayul dan omong kosong yang kejam. Namun pada akhir hayatnya ia banyak memanjatkan doa yang selalu dipelajarinya saat kecil. Bagi Neill, kejadian ini meneguhkan bukti bahwa perasaan pada anak-anak akan hidup sepanjang umur.

Summerhill pun menjadi surga pendidikan. Mereka menelurkan banyak alumni sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, politis. Mereka menjadi insinyur, dokter, dosen, pemusik, pengusaha, mekanis, koki, dan segala macam profesi, yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia. Summerhill telah dan terus melahirkan insan-insan yang berjuang membangun peradaban dunia yang lebih manusiawi dan damai.

Satu di antaranya adalah Robert Gottlieb yang menulis pengantar buku ini. Saat di Summerhill (1960-1962), dia tidak berminat belajar baca-tulis. Hingga usia sebelas tahun ia tak mau belajar baca-tulis. “Summerhill adalah sebuah cara hidup. Hidup bersama orang lain dalam sebuah masyarakat dan mengekspresikan diri dengan segenap kecintaan kita pada kasih sayang, ilmu pengetahuan dan karya,” katanya dalam buku itu. Tak segan-segan ia merekomendasikan pada kerabat, juga anaknya agar masuk Summerhill.

Neil, penulis buku ini dan pendiri Summerhill, sudah meninggal pada 22 September 1973 di Aldeburgh, Suffolk. Pria kelahiran Angus, Skotlandia bergelar MA bidang Bahasa dan Sastra Inggris dari Universitas Edinburgh ini sepanjang hayatnya banyak berceramah di mana-mana dan sudah menulis 21 buku semasa menjadi Kepala Sekolah Summerhill. Summerhill hingga saat buku ini ditulis pada 1990, dipimpin Zoe Readhead, sejak 1985.

Model pengelolaan Summerhill itu, banyak dikembangkan di banyak sekolah alternatif di sejumlah negara, khususnya Amerika Serikat. Tak ada salahnya Indonesia mengadopsi metodologi dan pengelolaan sekolah bebas. Setidaknya, banyak murid yang putus asa dan tertekan dengan beban belajar di sekolah merasakan suasana lain. Sangat tidak masuk akal melihat anak-anak putus asa karena tak punya biaya. Di lain daerah, ada siswa memilih mengakhiri hidup dengan cara meregang nyawa karena gagal Ujian Nasional. Sejumlah kalangan menilai sekolah di Indonesia tak ubahnya penjara. Orangtua sendiri berlomba-lomba memenjarakan anaknya ke sekolah.

Buku ini menyadarkan kita bahwa mempelajari dan mengetahui standar-standar pendidikan mutlak diperlukan. Kualitas terjemahan buku ini lumayan bagus, meskipun ada beberapa kata yang kurang pas penempatannya. Didukung sampul atraktif, buku ini wajib dibaca praktisi pendidikan terutama mereka yang terlibat langsung pengelolaan manajemen berbasis sekolah, penyusunan kurikulum, tenaga pendidik (guru), kepala sekolah, dosen, pemerhati pendidikan, dan tentu saja para orangtua yang menginginkan anaknya menjadi cerdas, percaya diri dengan cara yang merdeka.

EVA ROHILAH

Kategori: Resensi

Menerobos Kemacetan Visi Pendidikan

Juli 4, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Judul Buku : Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional

(Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar)

Penulis : Y.Dedi Pradipto

Penerbit : Kanisius Jogjakarta

Pengantar : Mudji Sutrisno

Edisi : I. 2007

Tebal : ix + 270

Harga : Rp.45.000

ISBN : 979-21-1583-8

Mungkin pembaca akan mengira jika buku berjudul Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional adalah buku yang menjabarkan tentang konsep belajar sejati berhadapan dengan kurikulum nasional yang beberapa kali mengalami perubahan. Dilihat dari judul dan desain sampulnya yang akrobatik memang mengesankan demikian. Sebuah perlawanan terhadap kemapanan dunia pendidikan. Namun, buku karya Yosef Dedy Pradipto ini mengulas lebih dari itu.

Gagasan tentang belajar sejati dan suasana hati yang merdeka dalam pendidikan dasar muncul dari proses panjang dalam perjalanan hidup Yusuf Bilyarta Mangun Wijaya atau akrab dipanggil Romo Mangun menjadi tema utama buku ini. Ide-ide pendidikan Romo Mangun yang kemudian dilembagakan menjadi DED (Dinamika Edukasi Dasar) inilah yang kemudian diserap oleh Dedy Pradipto menjadi sebuah disertasi untuk meraih gelar Doktor dari antropologi UI yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Kanisius Jogjakarta.

Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Romo Mudji Sutrisno, guru besar STF Driyarkara, merasa sangat terkesan pada kepedulian Dedy untuk menghidupi terus visi pendidikan Romo Mangun setelah sang pionir, pemrakarsa dan pelakunya sudah dipanggil Tuhan YME.

Berawal dari keprihatinan Romo Mangun terhadap kualitas perguruan tinggi. Banyak mahasiswa sekarang hanya main hafalan, ambil jalan pintas, berlogika rancu dan membebek diktat. Ternyata itu merupakan hasil SMU. Para Siswa terbiasa mencontek, tidak eksploratif dan tidak tidak kritis kreatif karena hasil SMP. Demikian seterusnya SMP adalah produk sekolah dasar.

Maka, memperbaiki pendidikan di Indonesia harus dimulai dari sekolah dasar. Sebab yang harus dibenahi adalah persoalan yang mendasar, yakni alur jalan berfikir atau logikanya. Serentak dengan itu pendidikan yang peduli terhadap realitas lingkungan dan alam yang berkawan dengan sesama, harus dimulai dengan humaniora. Jika semuanya digabung, maka yang harus dievaluasi adalah kurikum di tingkat pendidikan dasar.

Kurikulum 1975, 1984 dan 1994 dikritik karena memberikan terlalu banyak mata pelajaran dan materi kurikulum dianggap terlalu padat. Seturut dengan kurikulum nasional ini maka proses belajar-mengajar, buku teks dan ujian (EBTANAS) menjadi diseragamkan.

Permasalahan menjadi semakin kompleks ketika kurikulum nasional diterapkan di sekolah dengan kondisi yang tidak seragam di tiap-tiap daerah. Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan merupakan salah satu bentuk pendidikan eksperimental yang menawarkan kurikulum yang berbeda dengan kurikulum nasional. Romo Mangun menilai bahwa kurikulum nasional yang dibuat oleh pemerintah hanya akan membuat anak menjadi robot.

Anak-anak hanya bisa menghafal tetapi tidak bisa menerapkan ilmu yang diajarkan, pelajaran yang diberikan dianggap tidak sesuai dengan lingkungan tempat tinggal. Padahal, pendidikan merupakan proses pemanusiaan, yang berarti pembebasan manusia dari berbagai tekanan kekuasaan, termasuk kekuasaan politik sektarial, kurikulum baku yang terpusat, ujian nasional yang baku, dan kekuasaan birokrasi pendidikan.

Agar anak tidak menjadi robot yang diperbudak kurikulum, maka penulis yang mendapatkan master dari Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma ini memberikan penyadaran pada segenap guru atau pembaca buku ini agar menerapkan konsep belajar sejati yang di gagas Romo Mangun. Ide belajar Sejati dan suasana hati yang merdeka adalah tahap dimana sesorang punya kesadaran diri untuk memperhatikan, mempelajari, dan menekuni segala hal yang dialaminya sehari-hari.

Belajar sejati terdorong oleh keyakinan dari dalam suasana hati yang merdeka. Murid hanya belajar apabila ia punya perhatian, merasa terlibat dan melibatkan diri dalam materi belajarnya. Semua anak dari kodratnya dan dari dalam dirinya ingin tahu, ingin belajar ingin mengembangkan diri. Murid adalah guru bagi dirinya sendiri. (Hal 68)

Buku yang terdiri dari lima bab ini diharapkan bisa memberikan metode baru bagi para guru dalam mengembangkan pendidikan alternatif,menerobos kemacetan visi pendidikan.

Buku ini mendapat endorsement (pujian) dari beberapa tokoh pendidikan di Indonesia seperti H.A.R.Tilaar, Achmad Fedyani Saifuddin, Francis SSE Seda, Bedjo Sujanto dan J Riberu. Sayangnya editing buku ini terasa sangat kaku dan ilmiah. Mungkin karena diolah dari disertasi. Meskipun demikian buku ini membuka wawasan kita untuk melihat kepincangan yang ada dalam paradigma dan praksis dunia pendidikan dan mencari bentuk yang paling relevan dalam mencari format pendidikan ke depan.

Buku ini menarik dan patut dibaca oleh para pengambil kebijakan, akademisi, birokrat, guru, & pemerhati pendidikan.

Kategori: Resensi

Dilema Kaum Perempuan dalam Menciptakan Perubahan

Desember 22, 2002 · Tinggalkan sebuah Komentar

Judul: Kaum perempuan dan Ketidakadilan Sosial
Judul asli: Woman and Social Injustice
Penulis: Mahatma Gandhi
Alih Bahasa: Siti farida
Penyunting: Kamdani
Penerbit: Pustaka Pelajar Yogyakarta, Cetakan I, Juni 2002
Tebal: xxi+ 443 halaman + indeks

DI dalam sejarah, tidak ada seorang pemimpin yang memiliki pengikut sedemikian besar dalam masa hidupnya, baik di negerinya sendiri maupun di seluruh dunia, seperti Mahatma Gandhi. Dan, tak ada seorang pria yang bisa membangkitkan pengabdian dengan segenap ketulusan hati bagi kaum perempuan, selain Gandhi.

Alasan dari semua ini tidaklah sulit dicari. Gandhi memiliki kapasitas diteladani atas kesediaannya untuk menjadikan dirinya sebagai alas kaki bagi orang lain, terutama bagi orang-orang yang tengah berada dalam ketertindasan dan ketidakberdayaan.

Selain dikenal sebagai Bapak Anti Kekerasan (ahimsa), Gandhi adalah pejuang paling gigih yang membela kaum perempuan. Tak ada seorang pria pun yang pengabdiannya untuk menjunjung martabat perempuan sebesar Gandhi. Gandhilah yang mendudukkan kaum perempuan India sejajar, bahkan lebih tinggi, dari kaum pria. Kata-kata Gandhi selalu bertenaga, didengar, dan dilaksanakan pengikutnya, karena ia selalu menjadi implementator pertama dari apa yang dikhotbahkan. Ia selalu memulai pembaruan dari dalam dirinya dan keluarganya sendiri.

Dalam konteks pembaruan dan penegakan kebenaran, Gandhi menjadi pengkritik yang keras dan tanpa ampun bagi dirinya sendiri, yaitu pada saat dia menyadari dirinya menjadi “pemilik budak” (ini adalah sebutan Gandhi yang ditujukan kepada dirinya sendiri). Maka sikap beliau terhadap istrinya menjadi berubah, dan dengan perubahan tersebut, beliau memulai karya dan perjuangan bagi emansipasi kaum perempuan secara keseluruhan.

***

GANDHI selalu berbicara tanpa mengenal takut menentang sistem yang memaksakan status janda, purdah, persembahan gadis-gadis pada kuil-kuil, perbudakan ekonomi, dan perkawinan terhadap kaum perempuan.

“Pria dan perempuan statusnya sama”. Saya tidak akan pernah berkompromi dalam hal hak-hak perempuan. Dalam pandangan saya, kaum perempuan seharusnya bekerja di bawah undang-undang yang melegitimasi kelemahan kaum perempuan secara tidak sah, tetapi tidak diperlakukan kepada kaum pria. Saya harus memperlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan berpijak pada kesetaraan yang sempurna. “Berpikir bahwa smriti (ajaran yang berisi aturan-aturan tak tertulis) mengandung teks-teks yang membolehkan seorang pria untuk tidak menghormati dan menghargai kemerdekaan kaum perempuan sebagai mana kemerdekaannya sendiri dan menghormatinya sebagai ibu bangsa, ini adalah sesuatu yang memalukan”. Perkataan yang dihubungkan dengan manu, yaitu bahwa “bagi kaum perempuan tidak ada kemerdekaan”, bagi saya (Gandhi) bukanlah kata-kata suci”.

Ungkapan-ungkapan di atas tak lain adalah beberapa cuplikan kalimat dari tulisan-tulisan Gandhi atas nama kepentingan kaum perempuan yang tertindas.

***

PADA saat ini, persoalan kekerasan versus antikekerasan adalah sesuatu yang sangat penting. Pesan Gandhi adalah seruan yang nyaring bagi orang-orang yang meyakini antikekerasan sebagai jalan lintas yang paling cepat dan dekat untuk menuju ke surga, untuk mengerahkan kekuatan di sisinya.

Ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan Gandhi atas nama kepentingan kaum perempuan telah membangkitkan perasaan tanggung jawab bagi setiap pencinta kemanusiaan dan bahkan orang konservatif yang paling keras sekalipun. Karya-karya Gandhi sangat penting maknanya, terutama bagi kaum perempuan, karena semuanya menyentuh setiap aspek kehidupan mereka dan bisa berfungsi sebagai petunjuk yang tepat bagi kaum perempuan pada saat-saat sulit dan tertekan.

Yang terpenting, karya-karya Gandhi itu menyerukan kepada kaum perempuan akan kewajibannya-melahirkan dan mengabdi-bagi kemajuan kaum perempuan sendiri, bangsa, dan kemanusiaan secara luas. Semangat inilah yang harus ada bagi setiap perempuan yang membaca buku ini. Kita ada untuk mengambil keputusan zaman baru.

Buku ini merupakan terjemahan dari tulisan-tulisan Gandhi yang dipublikasikan di media massa India. Dalam buku ini, Gandhi mengungkapkan pikiran-pikirannya di sekitar kaum perempuan (kedudukan, peran, dan jasa) dan kelemahan alam budaya partiarkal. Dalam konteks sekarang, gagasan-gagasan Gandhi yang revolusioner perlu dikaji kembali dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bahasa yang provokatif, buku ini secara lugas mampu mendedahkan berbagai macam persoalan perempuan. Dari mulai pendewaan yang salah terhadap kaum perempuan (hlm 55) sampai dengan cobaan berat bagi kaum perempuan (hlm 423). Semuanya diracik dalam suatu tulisan yang padat dan singkat, dan langsung menukik pada inti persoalan.

Meskipun dengan setting sosial India, apa yang ditulis dalam buku ini bisa juga terjadi di Indonesia, sehingga buku ini cukup representatif untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan (komparasi) untuk menganalisa permasalahan jender dan dinamika gerakan perempuan. Tidak menutup kemungkinan buku ini dijadikan sebagai sumber sekunder dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan posisi perempuan dalam perjuangannya untuk menuntut perubahan atau mengeliminir ideologi patriarki yang selama ini merasuk dalam berbagai dimensi kehidupan.

Kompas Minggu, 22 Desember 2002

Kategori: Resensi